Selasa, 03 Februari 2009

HUKUM PIDANA ISLAM


RESUME
FIQHI JINAYAH

Nama : Moh. Yusran
Nim : SP.060924
Jurusan : Ilmu Pemerintahan
Semester : v (lima)

A. Pengertian Jinayat/Jarimah
Hukum Pidana Islam sering disebut dalam fiqh dengan istilah jinayat atau jarimah. Jinayat dalam istilah hukum sering disebut dengan delik atau tindak pidana. Jinahah merupakan bentuk verbal noun (mashdar) dari kata jana. Secara etimologi jana berarti berbuat dosa atau salah, sedangkan jinayah diartikan perbuatan dosa atau perbuatan salah. Secara terminologi kata jinayat mempunyai beberapa pengertian, seperti yang diungkapkan oleh Abd al Qodir Awdah bahwa jinayat adalah perbuatan yang dilarang oleh syara' baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda, atau lainnya.
Menurut A. Jazuli, pada dasarnya pengertian dari istilah Jinayah mengacu kepada hasil perbuatan seseorang. Biasanya pengertian tersebut terbatas pada perbuatan yang dilarang. Di kalangan fuqoha', perkataan Jinayat berarti perbuatan perbuatan yang dilarang oleh syara'. Meskipun demikian, pada umunya fuqoha' menggunakan istilah tersebut hanya untuk perbuatan perbuatan yang terlarang menurut syara'. Meskipun demikian, pada umumnya fuqoha' menggunakan istilah tersebut hanya untuk perbuatan perbuatan yang mengancam keselamatan jiwa, seperti pemukulan, pembunuhan dan sebagainya. Selain itu, terdapat fuqoha' yang membatasi istilah Jinayat kepada perbuatan perbuatan yang diancam dengan hukuman hudud dan qishash, tidak temasuk perbuatan yang diancam dengan ta'zir. Istilah lain yang sepadan dengan istilah jinayat adalah jarimah, yaitu larangan larangan syara' yang diancam Allah dengan hukuman had atau ta'zir.
Sebagian fuqoha menggunakan kata jinayat untuk perbuatan yang yang berkaitan dengan jiwa atau anggota badan, seperti membunuh, melukai dan lain sebagainya. Dengan demikian istilah fiqh jinayat sama dengan hukum pidana. Haliman dalam disertasinya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hukum pidana dalam syari'at Islam adalah ketentuan-ketentuan hukum syara' yang melarang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, dan pelanggaran terhadap ketentuan hukum tersebut dikenakan hukuman berupa penderitaan badan atau harta.

B. Macam macam Jarimah
Macam macam tindak pidana (Jarimah) dalam Islam dilihat dari berat ringannya hukuman dibagi menjadi tiga, yaitu hudud, qishosh diyat dan ta'zir.
1. Jarimah Hudud. Yaitu perbuatan melanggar hukum yang jenis dan ancaman hukumannya ditentukan oleh nas yaitu hukuman had (hak Allah). Hukuman had yang dimaksud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi serta tidak bisa dihapuskan oleh perorangan (si korban atau walinya) atau masyarakat yang mewakili (ulil amri). Para ulama' sepakat bahwa yang menjadi kategori dalam jarimah hudud ada tujuh, yaitu zina, menuduh zina (qodzf), mencuri (sirq), perampok dan penyamun (hirobah), minum-mnuman keras (surbah), dan murtad (riddah).
2. Jarimah Qishosh Diyat. Yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman qishosh dan diyat. Baik qishosh maupun diyat merupakan hukuman yang telah ditentukan batasannya, tidak ada batas terendah dan tertinggi tetapi menjadi hak perorangan (si korban dan walinya), ini berbeda dengan hukuman had yang menjadi hak Allah semata. Penerapan hukuman qishosh diyat ada beberapa kemungkinan, seperti hukuman qishosh bisa berubah menjadi hukuman diyat, hukuman diyat apabila dimaafkan akan menjadi hapus. Yang termasuk dalam kategori jarimah qishosh diyat antara lain pembunuhan sengaja pembunuhan semi sengaja, pembunuhan keliru (qotl khotho'), penganiayaan sengaja dan penganiayaan salah (jarh khotho').
Dalam Islam pemberlakuan hukuman mati terhadap pelaku pembunuhan sengaja tidak bersifat mutlak, karena jika dimaafkan oleh keluarga korban dia hanya diberi hukuman untuk membayar diyat yaitu denda senilai 100 onta (Al ˜Abdl Basyir, 2003: 61). Di dalam Hukum Pidana Islam, diyat merupakan hukuman pengganti (Al ˜uqubah badaliah) dari hukuman mati yang merupakan hukuman asli (Al uqubah ashliyah) dengan syarat adanya pemberian maaf dari keluarganya.
3. Ta'zir
Jarimah hudud bisa berpindah menjadi Jarimah Ta'zir bila ada syubhat, baik itu shubhat fi al fi'li, fi al fa'il, maupun fi al mahal. Demikian juga bila Jarimah hudud tidak memenuhi syarat, seperti percobaan pencurian dan percobaan pembunuhan. Bentuk lain dari jarimah ta'zir adalah kejahatan yang bentuknya ditentukan oleh ulil amri sesuai dengan nilai nilai, prinsip prinsip dan tujuan syari'ah, seperti peraturan lalu lintas, pemeliharaan lingkungan hidup, memberi sanksi kepada aparat pemerintah yang tidak disiplin dan lain lain.
Secara bahasa ta'zir merupakan mashdar (kata dasar) dari 'azzaro yang berarti menolak dan mencegah kejahatan, juga berarti menguatkan, memuliakan, membantu. Ta'zir juga berarti hukuman yang berupa memberi pelajaran. Disebut dengan ta'zir, karena hukuman tersebut sebenarnya menghalangi si terhukum untuk tidak kembali kepada jarimah atau dengan kata lain membuatnya jera. Sementara para fuqoha' mengartikan ta'zir dengan hukuman yang tidak ditentukan oleh al Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya untuk tidak mengulangi kejahatan serupa. Ta'zir sering juga disamakan oleh fuqoha' dengan hukuman terhadap setiap maksiyat yang tidak diancam dengan hukuman had atau kaffarat.

C. Jenis-Jenis Hukuman
 Hukuman Mati
Pada dasarnya menurut syari'ah Islam, hukuman ta'zir adalah untuk memberikan pengajaran (ta'dib) dan tidak sampai membinasakan. Oleh karena itu, dalam hukum ta'zir tidak boleh ada pemotongan anggota badan atau penghilangan nyawa. Akan tetapi beberapa foqoha' memberikan pengecualian dari aturan umum tersebut, yaitu kebolehan dijatuhkan hukuman mati jika kepentingan umum menghendaki demikian, atau kalau pemberantasan tidak bisa terlaksana kecuali dengan jalan membunuhnya, seperti mata mata, pembuat fitnah, residivis yang membahayakan. namun menurut sebagian fuqoha yang lain, di dalam jarimah ta'zir tidak ada hukuman mati.
 Hukuman Jilid
Dikalangan fuqoha terjadi perbedaan tentang batas tertinggi hukuman jilid dalam ta'zir. Menurut pendapat yang terkenal di kalangan ulama' Maliki, batas tertinggi diserahkan kepada penguasa karena hukuman ta'zir didasarkan atas kemaslahatan masyarakat dan atas dasar berat ringannya jarimah. Imam Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa batas tertinggi hukuman jilid dalam ta'zir adalah 39 kali, dan menurut Abu Yusuf adalah 75 kali.
Sedangkan di kalangan madzhab Syafi'i ada tiga pendapat. Pendapat pertama sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan Muhammad. Pendapat kedua sama dengan pendapat Abu Yusuf. Sedangkan pendapat ketiga, hukuman jilid pada ta'zir boleh lebih dari 75 kali, tetapi tidak sampai seratus kali, dengan syarat bahwa jarimah ta'zir yang dilakukan hampir sejenis dengan jarimah hudud.
Dalam madzhab Hambali ada lima pendapat. Tiga di antaranya sama dengan pendapat madzhab Syafi'i di atas. Pendapat ke empat mengatakan bahwa jilid yang diancam atas sesuatu perbuatan jarimahtidak boleh menyamai hukuman yang dijatuhkan terhadap jarimah lain yang sejenis, tetapi tidak boleh melebihi hukuman jarimah lain yang tidak sejenisnya. Pendapat ke lima mengatakan bahwa hukuman ta'zir tidak boleh lebih dari 10 kali. Alasannya ialah hadits nabi dari Abu Darda sebagai berikut: "Seorang tidak boleh dijilid lebih dari sepuluh kali, kecuali dalam salah satu hukuman hudud".
 Hukuman-Kawalan (Penjara Kurungan)
Ada dua macam hukuman kawalan dalam hukum Islam. Pembagian ini didasarkan pada lama waktu hukuman. Pertama, Hukuman kawalan terbatas. Batas terendah dai hukuman ini adalah satu hari, sedang batas tertinggi, ulama' berbeda pendapat. Ulama' Syafi'iyyah menetapkan batas tertingginya satu tahun, karena mereka mempersamakannya dengan pengasingan dalam jarimah zina. Sementara ulama' ulama' lain menyerahkan semuanya pada penguasa berdasarkan maslahat.
Kedua, Hukuman kawalan tidak terbatas. Sudah disepakati bahwa hukuman kawalan ini tidak ditentukan masanya terlebih dahulu, melainkan berlangsung terus sampai terhukum mati atau taubat dan baik pribadinya. Orang yang dikenakan hukuman ini adalah penjahat yang berbahaya atau orang yang berulang ulang melakukan jarimah jarimah yang berbahaya.
Hukuman kawalan tidak terbatas. Sudah disepakati bahwa hukuman kawalan ini tidak ditentukan masanya terlebih dahulu, melainkan berlangsung terus sampai terhukum mati atau taubat dan baik pribadinya. Orang yang dikenakan hukuman ini adalah penjahat yang berbahaya atau orang yang berulang ulang melakukan jarimah jarimah yang berbahaya.
 Hukuman Salib
Hukuman salib sudah dibicarakan dalam jarimah gangguan keamanan (hirobah), dan untuk jarimah ini hukuman tersebut meruapakan hukuman had. Akan tetapi untuk jarimah ta'zir hukuman salib tidak dibarengi atau didahului dengan oleh hukuman mati, melainkan si terhukum si terhukum disalib hidup hidup dan tidak dilarang makan minum, tidak dilarang mengerjakan wudhu, tetapi dalam menjalankan sholat cukup dengan isyarat. Dalam penyaliban ini, menurut fuqoha' tidak lebih dari tiga hari.
 Hukuman Ancaman (Tahdid), Teguran (Tanbih) dan Peringatan
Ancaman juga merupakan salah satu hukuman ta'zir, dengan syarat akan membawa hasil dan bukan hanya ancaman kosong. Misalnya dengan ancama akan dijilid, dipenjarakan atau dihukum dengan hukuman yang lain jika pelaku mengulangi tindakannya lagi.
Sementara hukuman teguran pernah dilakukan oleh Rosulullah terhadap sahabat Abu Dzar yang memaki maki orang lain dengan menghinakan ibunya. Maka Rosulullah saw berkata, "Wahai Abu Dzar, Engkau menghina dia dengan menjelek jelekkan ibunya. Engkau adalah orang yang masih dihinggapi sifat sifat masa jahiliyah."
Hukuman peringatan juga diterapkan dalam syari'at Islam dengan jalan memberi nasehat, kalau hukuman ini cukup membawa hasil. Hukuman ini dicantumkan dalam al Qur'an sebagaimana hukuman terhadap istri yang berbuat dikhawatirkan berbuat nusyuz.
 Hukuman Pengucilan (al Hajru)
Hukuman pengucilan merupakan salah satu jenis hukuman ta'zir yang disyari'atkan oleh Islam. Dalam sejarah, Rosulullah pernah melakukan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk, yaitu Ka'ab bin Malik, Miroroh bin Rubai'ah, dan Hilal bin Umaiyah. Mereka dikucilkan selama lima puluh hari tanpa diajak bicara, sehingga turunlah firman Allah:
"Dan terhadap tiga orang yang tinggal, sehingga apabila bumi terasa sempit oleh mereka meskipun dengan luasnya, dan sesak pula diri mereka, serta mereka mengira tidak ada tempat berlindung dari Tuhan kecuali padaNya, kemudian Tuhan menerima taubat mereka agar mereka bertaubat."
 Hukuman Denda (tahdid)
Hukuman Denda ditetapkan juga oleh syari'at Islam sebagai hukuman. Antara lain mengenai pencurian buah yang masih tergantung dipohonnya, hukumannya didenda dengan lipat dua kali harga buah tersebut, disamping hukuman lain yang sesuai dengan perbuatannya tersebut. Sabda Rosulullah saw, "Dan barang siapa yang membawa sesuatu keluar, maka atasnya denda sebanyak dua kalinya besrta hukuman." Hukuman yang sama juga dikenakan terhadap orang yang menyembunyikan barang hilang.
Dalam cakupan fikih jarimah dalam syariat islam dikenal prinsip bahwa suatu perbuatan dapat dipandang sebagai jarimah jika telah dinyatakan dalam nash atau dengan bahasa kenegaraan,sesuatu perbuatan dapat dipandang sebagai jarimah jika telah diundangkan.
Dengan adana prinsip tersebut macam jarimah dan sangsinya akan dapat diketahui dengan jelas dan pasti.dengan demikian orang akan berhati-hati agar jangan sampai melakukan jarimah yang akan berakibat penderitaan terhadap diri sendirinya juga.dari segi lain adanya prinsip tersebut akan mencegah terjadinya penyalah gunaan wewenang penguasa atau pengadilan untuk menjatuhkan suatu hukumankepada seseorangt berbeda dengan hukuman yang akan dijatuhkan terhadap orang lain yang melakukan jarimahyang sama dengan motif yang sama pula.
Adanya prinsip tersebut dimaksudkan juga untuk memberikan kepastian hukum terhadap bermacam macam jarimah.jangan sampai suatu hukuman dijatuhkan terhadap sesuatu jarimah yang diatur kemudian.Meskipun demikian,dapat dikecualikan untuk hal yang dipandang yang amat besar bahayanya terhadap masyarakat.aturan dapat dibuat kemudian kemudian setelah perbuatan jarimah dilakukan,guna menjadi dasar hukum dalam hendak menjatuhkan hukuman.
Macam jarimah yang ditentukan ancaman pidananya dalam al-quran ialah pembunuhan ,penganinayaan ,pencurian ,perampokan,pemberontakan,zina,dan menuduh zina.Hadis naba saw.kecuali memberikan perincian jarimah-jarimah yang ditunjuk didalam al’quran tujuh macam tersebut,juga menentukan sangsi pidana terhadap dua macam jarimah lainnya,yaitu:minuman keras,dan riddah keluar dari agama islam.

D. Unsur-unsru Jinayah/Jarimah
Adapun aturan hukum maupun unsure-unsur perbuatan dapat dikatakan sebagai perbuatan jarimah yaitu apabila memenuhi beberapa sarat atau unsure-unsur sebagai berikut:
1. Unsur formal,yaitu adanya nas atau ketentuan yang menunjuknya sebagai jarimah.unsur ini sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa jarimah tidak terjadi sebelum dinyatakan dalam nas.Alasan harus adanya unsur ini antara lain firman allah dalam QS al isra:15 yang mengajarkan bahwa allah tidak akan menyiksa hambanya sebelum mengutus utusannya.Ajaran ini berisi ketentuan bahwa hukuman akan ditimpakan kepada mereka yang membangkang ajaran rasul allah harus lebih dulu diketahui adanya ajaran rasul allah yang dituangkan dalam nas.
2. Unsur material,yaitu adanya perbuatan melawan hukum yang benar-benar telah dilakukan.Hadis nabi riwayat bukhari muslim dari abu hurairah mengajarkan bahwa allah melewatkan hukuman untuk umat nabi muhamad atas sesuatu yang masih terkandung dalam hati,selagi ia tidak mengatakan dengan lisan atau mengerjakannya dengan nyata.
3. Unsur moral, yaitu adanya niat pelaku untuk berbuat jarimah.unsur ini menyangkut tanggung jawab pidana yang hanya dikenakan atas orang yang telah baliq, sehat akal, dan ikhtiyar(berkebebasan berbuat). dengan kata lain, unsure moral ini berhubungan dengan tanggung jawab pidana yang hanya dibebankan atas orang mukalaf dalam keadaan bebas dari unsure keterpaksaan atau ketidaksadaran penuh. Hadis Nabi riwwayat Ibnu Majah dari Abu Dzarr mengajarkan bahwa Allah melewatkan hukuman terhadap umat nabi Muhammad karena salah(tidak sengaja), lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka.

E. Tinjauan Umum Tentang Asas Legalitas D Menurut Hukum Pidana Islam dan Dasar Hukum
1. Asas Legalitas
Kalangan para ulama’ fiqih, asas legalitas berarti suatu konsekuensi logis dari persyaratan seorang mukallaf (subjek hukum) dan perbuatan mukallaf.
Seperti diketahui bahwa salah satu syarat mukallaf adalah mampu memahami aturan yang mewajibkan dan yang melarang suatu perbuatan. Syarat ini sudah tentu mengharuskan aturan-aturan tersebut ada lebih dahulu untuk bisa dipahami dan dimengerti leh seorang mukallaf.
Sedangkan perbuatan yang diwajibkan atau dilarang itu harus diketahui dengan melalui aturannya agar bisa ditaati dengan cara meninggalkan yang dilarang dan melakukan yang diwajibkan. Hal inipun mengharuskan adanya aturan terlebih dahulu.
Pengertian asas legalitas pada pokoknya menyebutkan bahwa tiada suatu perbuatan yang dapat dihukum kecuali ada kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang yang sudah ada terlebih dahulu daripada perbuatan itu, artinya adalah tak ada pelanggaran dan tak ada hukuman sebelum adanya undang-undang yang mengaturnya.
Dengan perkataan lain bahwa perbuata seorang yang cakap bertindak tidak mungkin dikatakan dilarang, selama belum ada nash yang melarangnya dan ia mempunyai kebebasan untuk melakukan atau meninggalkan perbuatan tersebut, sehingga ada nash yang melarang.
Dengan demikian dari kaidah tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa suatu perbuatan atau sikap tidak berbuat tidak boleh dipandang sebagai jarimah kecuali ada nash atau ketentuan yang jelas dan melarang perbuatan serta sikap tidak berbuat yang dilakukan oleh orang mukallaf.
2. Dasar Hukum
Berdasarkan syari’at Islam, tujuan berlakunya asas legalitas itu sendiri hampir sama dengan apa yang dikemukakan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, hal ini terjadi karena dalam hukum pidana Islam hukuman memperupakan pendidikan bagi pelanggar dan bukan untuk menganiaya yang bersangkutan.
Dengan asas legalitas inilah, diharapkan setiap umat manusia yang memeluk agama Islam sudah memahami hukuman apa yang akan diterima bagi yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Disamping hukuman di dunia, Islam mengajarkan bahwa hukumannya juga akan diterima yang bersangkutan di akhirat nanti setelah meninggal dunia.
3. Konsepsi berlakunya asas legalitas
Syari’at Islam mengenal asas legalitas yang diterapkan pada semua macam jarimah, maksudnya adalah bahwa nas-nas pidana dalam syari’at Islam baru berlaku terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum nas-nas itu diundangkan. Artinya nas-nas tersebut tidak mempunyai kekuatan berlaku surut, dan perbuatan jarimah hanya diterapkan menurut aturan yang berlaku pada saat peristiwa-peristiwa itu terjadi.
Asas legalitas diterapkan oleh syari’at pada semua jarimah, akan tetapi corak dan cara penerapannya tidak sama, melainkan berbeda-beda, menurut perbedaan macamnya jarimah.

Jarimah Qadzaf
A. Pengertian Jarimah Qadzaf (Menuduh Zina)
Jarimah atau Jinayah menurut Abd. Al-Qadir Awdah adalah “Perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda, atau lainnya”. Jadi jinayah merupakan suatu tindakan yang dilarang oleh syara’ karena dapat menimbulkan bahaya bagi jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sedangkan menurut al-Mawardi Jarimah atau Jinayah adalah “Larangan-larangan syara’ yang diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta’zir”.
Para ulama’ dan ahli hukum Muslim awal tidak membedakan antara aspek perundangan, etika dan agama dalam syari’ah, apalagi memilah bidang-bidang hukum tertentu secara terpisah. Akibatnya prinsip-prinsip dan aturan-aturan syari’ah yang sesuai dengan apa yang dikenal dalam terminologi modern sebagai hukum pidana, pembuktian dan prosedur, hanya bisa disarikan dari risalah dan fiqh Islam yang umum dan luas.
Qadzaf ialah melemparkan tuduhan zina kepada orang yang baik-baik lagi suci bahwa ia telah berbuat zina.. Yaitu maksudnya qadzaf ialah membuat tuduhan zina yang tidak dibuktikan terhadap seorang Islam yang akil baligh dan dikenali sebagai seorang yang bersih dari perbuatan zina tanpa pembuktian dengan empat orang saksi laki-laki. Qadzaf boleh berlaku dengan membuat kenyataan secara jelas seperti mengatakan seseorang itu telah berzina, atau dengan cara tersirat seperti menyatakan bahwa seseorang itu bukan anak atau bukan bapak kepada seseorang tertentu.
B. Syarat Menetapkan Kesalahan Qadzaf
Qadzaf boleh dijatuhkan dengan syarat membuat suatu kenyataan dengan cara yang nyata seperti menyatakan bahwa seseorang itu telah melakukan zina atau dengan cara tersirat seperti menyatakan bahwa seseorang itu bukan anak atau bukan bapak kepada seseorang tertentu. Kenyataan tersebut dianggap sebagai qadzaf apabila bisa dibuktikan dengan empat orang saksi laki-laki, dan jika kenyataan itu tidak bisa dibuktikan maka orang yang membuat tuduhan itu adalah telah melakukan kesalahan qadzaf. Tetapi sekiranya kenyataan itu dibuktikan, maka orang yang dituduh itu ditetapkan telah berbuat zina.
Suatu kenyataan dianggap tidak terbukti, sekiranya seseorang atau beberapa orang saksi yang berempat itu dipanggil untuk memberi keterangan sebagai pembuktian kenyataan itu, dan mereka enggan atau tidak mau memberikan keterangan itu atau jika mereka memberikan suatu keterangan yang berlainan dengan kenyataan sebenarnya. Dalam keadaan ini penuduh tersebut telah ditetapkan melakukan kesalahan qadzaf dan sah dikenakan had qadzaf atas dirinya.

C. Pembuktian Qadzaf
Kesalahan qadzaf boleh ditetapkan apabila ada salah satu bukti-bukti seperti berikut ini;
1. Penyaksian, yaitu saksi-saksi yang boleh diterima penyaksian uantuk membuktikan ketetapan kesalahan qadzaf haruslah disaksikan oleh saksi-saksi yang layak menjadi dalam perbuatan zina. Untuk membuktikan ketetapan kesalahan qadzaf ialah dengan pengakuan sendiri dari orang yang membuat tuduhan atas seseorang yang melakukan zina dengan sekali pengakuan dalam mahkamah atau majlis kehakiman.
2. Pengakuan, yaitu seseorang yang mengaku bahwa ia telah menuduh orang lain berbuat zina, maka hakim boleh menjatuhkan had qadzaf pada dirinya.
3. Sumpah, yaitu dalam perbuatan qadzaf boleh ditetapkan kesalahan qadzaf dengan sumpah. Jikalau orang yang dituduh tidak mempunyai barang bukti untuk menolak dan menghindar dari tuduhan orang yang menuduh, maka orang yang dituduh itu hendaklah meminta kepada orang yang membuat tuduhan supaya bersumpah atas kebenaran tuduhannya itu.
4. Qarinah (bukti-bukti), yaitu terbagi dua; Bukti yang kuat dan Bukti yang lemah. Bukti yang kuat adalah bukti yang cukup untuk mengharuskan hukuman dilaksanakan.

D. Pelaksanaan Hukuman Qadzaf
Orang yang melakukan kesalahan qadzaf hendaklah dihukum dengan hukuman dera/ dicambuk dengan 80 kali cambukan dan keterangannya sebagai seorang saksi tidak boleh diterima lagi sehingga dia bertaubat atas perbuatannya itu.
Menuduh orang yang baik lagi suci berzina tanpa mendatangkan 4 orang saksi laki-laki yang adil hukumnya adalah haram dan termasuk dalam dosa besar dan wajib dikenakan hukuman had qazaf atau dera.
Kecuali jikalau dia dapat membawa 4 orang saksi yang dapat menetapkan kesalahan orang yang dikatakan berzina tersebut dengan kesalahan zina. Hukuman ini berdasarkan kepentingan kehormatan seseorang dikalangan masyarakat. Ia juga untuk memastikan tidak ada tuduhan zina yang dibuat tanpa ada dasar yang kukuh, karena tuduhan zina itu suatu yang amat memalukan dan akan menyebabkan kehancuran rumah tangga seseorang.
Hukuman hudud bagi qazaf adalah satu ketetapan Allah s.w.t. berdasarkan firmannya dalam surat an-nur ayat 4:
                    
Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik”.
Syarat-syarat sebelum dijatuhkannya hukuman Qadzaf, ialah :

1. Qadzaf (orang yang menuduh), syarat-syaratnya :
a. Berakal
b. Baligh
c. Ikhtiar (tidak dalam keadaan terpaksa)
2. Maqdzuf (orang yang dituduh), syarat-syaratnya :
a. Berakal
b. Baligh
c. Islam
d. Merdeka
e. Belum pernah dan menjauhi tuduhan tersebut
3. Maqdzuf ‘Alaihi (tuduhan), syarat-syaratnya :
a. Sharih (jelas), yaitu tuduhan yang menggunakan perkataan-perkataan yang jelas dan tetap yang tidak boleh ditafsirkankepada maksud yang lain selain daripada zina dan penafian nasab (keturunan).
b. Kinayah (kiasan), yaitu tuduhan yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan yang tidak tetap akan tetapi memberi pengertian zina.
c. Ta’ridh (sindiran), yaitu tuduhan yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan tidak tetap juga dan memberi pengertian yang lain daripada zina sebagaimana yang dilakukan dalam perkataan kinayah.

Jarimah Pembrontakan
A. Pengertian dan Unsur Pembrontakan
Bughah secara harfiah artinya menanggulkan atau melanggar. Dalam istilah hukum Islam yang dimaksud dengan bughah yaitu ushah atau gerakan yang dilakukan oleh suatu kelompok dengan tujuan menggulingkan pemerintah yang sah.
Menurut Ulama Hanafiyah, al-Baghyu diartikan sebagai keluarnya seseorang dari ketaatan kepada imam yang sah tanpa alasan. Ulama Syafi’iyah berkata “Pembrontakan adalah orang-orang muslim yang menyalahi Imam dengan cara tidak mentaati dan melepaskan dirinya dari atau menolak kewajiban dengan memiliki kewajiban, memiliki argumenatasi dan memiliki pemimpin. `
Sementara Mazhab Maliki al-Baghy diartikan sebagai penolakan untuk mentaati Imam yang sah dengan jalan kekuatan. Penolakan untuk taat ini mungkin didasarkan pada penafsiran tertentu, mereka mendefinisikan bughat sebagai satu kelompo orang-orang Islam yang menentang Imam dan wakil-wakilnya.
Sesuatu gerakan anti pemerintah pembrontak dan harus dihukum sebagai mana yang ditetapkan pada ayat di atas dengan catatan sebagai berikut:
a. Pemegang kekuasaan yang sah bersikap adil dalam menetapkan kebijakan.
b. Pembrontakan merupakan satu kelompok yang memiliki kekuatan sehingga pemerintah untuk mengatasi gerakan tersebut harus bekerja jika gerakan tersebut hanya dilakukan segelintir orang yang mudah diatas dan dikontrol tidak termasuk Bugha.
c. Dari gerakan tersebut diperoleh bukti-bukti kuat yang menunjukan sebagai gerakan untuk membrontak guna menggulingkan pemerintahan yang sah. Jika tidak gerakan tersebut dikategorikan sebagai pengacau keamanan atau perampok
d. Gerakan tersebut mempunyai sistem kepemimpinan karena tanpa ada seorang pemimpin tidak mungkin kekuatan akan terwujud.

B. Saksi dan Dasar Hukum Pembrontakan
Ada dua pendapat Ulama mengenai hukuman yang wajib dikenakan atas pembrontakan yaitu sebagian Ulama berpendapat bahwa pembrontak wajib terus diperangi, karena membiarkan kegiatan mereka akan melahirkan kerusakan-kerusakan dan kekacauan yang sukar dibendung,
Sebagai Ulama berpendapat lain bahw pembrontak wajib diperangi. Hal ini telah menjadi Ijma Ulama tetapi sebelum diperangi hendaklah mereka terlebih dahulu diberi nasehat terakhir jika mennghadapi mereka bukan sebagai tujuan, hanya sekedar jalan supaya mereka kembali dijadikan prinsip bagi seorang kepala Negara dalam menghadapi pembrontak.
Dasar hukum
Dasar Hukum yang dijadikan acuan sebagai firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 9:

Artinya: Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Alasan hukum berlakunya sanksi sebagaimana Firman Allah yakni untuk menciptakan sistem kemasyarakatan dan kewibawaan pemerintahan. Seperti diketahui bahwa manusia membutuhkan teman. Pergauluan antara seorang dengan yang lain semakin lama semakin meluas untuk menjalin antara satu pihak yang lain dengan pihak yang lain diperlukan seorang pemimpin, berikut sistem aturan yang menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat. Sistem peraturan yang disepakati akan berjalan dengan baik apabila semua pihak mematahi peraturan tersebut. Pembrontakan dalam arti upaya untuk menggulingkan pemerintah yang sah pembrontak sama dengan pengkhianat.
Sedangkan dalam hadits dinyatakan: “barang siapa mendatangimu sedangkan urusanmu berada pada tangan seorang pemimpin untuk mengoyak kekuatan atau memecah belah jamaahmu, maka bunuhlah dia.”

C. Bentuk-bentuk Pembrontakan
Tidak taat kepada pemerintahan yang adil adalah salah satu perbuatan dosa begitu juga membantu penguasa zalim, seseorang atau orang dalam pembrontakannya biasanya terdapat unsur-unsur politik di dalamnya adakalanya ingin merebutkan kekuasaan menggulingkan dan menjatuhkan pemerintahan.
Ada beberapa golongan yang dikatakan sebagai pembrontakan yaitu sebagai berikut:
a. Golongan yang tidak mentaati pemerintah bukan karena salah faham dan sengaja untuk merusakan keamanan dalam negri.
b. Golongan yang membrontak terhadap pemerintah karena salah faham tetapi bilangannya kecil, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa golongan ini juga termasuk pembrontak tanpa melihat sedikit atau banyaknya bilangan. Dengan demikian wajib dikenakan hukum Bughah atas mereka.
c. Golongan yang menentang Kepala Negara yang bertujuan melepaskan jabatannya karena suatu kekelihatan dan mereka mempunyai kekuatan yang memerlukan kekuatan pula untuk menumpas mereka. Termasuk ke dalam Bughah apabila 2 golongan Umat Islam yang berperang karena merebutkan kekuasaan.

D. Pembuktian Pembrontakan
Perkara yang disepakati oleh seluruh Mazhab dalam Islam bahwa tidak harus pemerintah memerangi al-Bughah sebelum diketahui sebab penentangan mereka. Apabila mereka menda’wakan tentang kezaliman dalam penyelewengan pemerintah menghapuskan dulu kezaliman dan penyelewengan itu. Selepas itu barulah pemerintah menyeru dan mereka supaya kembali taat dan mereka wajib kembali taat “selepas kezaliman dan penyelewengan dihapuskan”. Jika mereka enggan maka pemerintah berhak memerangi mereka ini berdasarkan sebab-sebab.
a. Mereka bersenjata dan menentang secara kekerasan sebaliknya hanya mencoba bersuara dan ingin menyatakan kepada rakyat umum tentang pendapat mereka maka itu dikatakan pembrontak.
b. Mereka memberitahukan kepada rakyat seolah-olah pemerintah telah melakukan kesalahan dan penyelewengan.
c. Mereka mengajak rakyat menukar pemerintah secara kekerasan.
Hukuman
1. Pengertian Hukuman
Hukuman dalam Bahasa Arab disebut ‘Uqubah. Lafaz ini menurut bahasa berasal dari ‘Aqabah yang sinonimnya: Khalafahu wajaa’a Biaqabihi artinya mengiringya dan datang dari belakangnya. dalam pengertian yang agak mirip dan mendekati istilah barangkali lafaz tersebut bisa di ambil dari lafaz Aqabah yang sinonimnya Jazaahu Sawaan bimaa Fa’ala artinya membalasnya sesuai dengan apa yang dilakukannya.
Dari pengertian yang pertama dapat dipahami bahwa sesuatu disebut hukuman karena mengiringi perbuatan dan dilaksanakan sesudah perbuatan itu dilakukan. Sedangkan dari pengertian yang kedua dapat dipahami bahwa sesuatu disebut hukuman karena ia merupakan balasan terhadap perbuatan yang meyimpang yang telah dilakukan,
Dalam bahasa Indonesia hukuman diartikan sebagai “Siksa dan sebagainya” atai “ Keputusan yang dijatuhkan Hakim”
Dalam hukum positif di Indonesia istilah hukuman hampir sama dengan pidana walaupun sebenarnya seperti apa yang dikatakan oleh Wirjono Projodikoro kata hukuman sebagai istilah tidak dapat menggantikan kata pidana, oleh karena ada istilah hukuman pidana dan hukuman perdata seperti misalnya ganti rugi.
Menurut Hukum Pidana Islam hukuman adalah seperti yang dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah sebagai berikut:
Hukuman adalah pembalasan yang ditetapkan untuk memelihara kepentinan masyarakat karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan syara.
2. Tujuan Hukuman
Tujuan pokok dalam penjatuhan hukuman dalam syari’at Islam ialah pencegahan (ar’radu waz zajru) dan pengajaran serta pendidikan (al-Islah wat Tahdsib). Pengertian pencegahan ialah ialah menahan pembuat agar tidak mengulangi perbuatan jarimah atau ia tidak terus menerus memperbuatnya, disamping pencegahan terhadap orang lain selain pembuat agar tidak memperbuat jarimah sebab ia bisa mengetahui bahwa hukuman yang dikenakan terhadap orang yang memperbuat pula perbuatan yang sama.
Dengan demikian maka kegunaan pencegahan adalah rangkap, yaitu menahan terhadap pembuat sendiri untuk tidak mengulangi perbuatannya dan menahan orang lain untuk tidak memperbuatnya pula dan menjauhkan diri dari lingkungan jarimah.
Oleh karena itu tujuan hukuman adalah pencegahan maka besarnya hukuman harus sesuai dan cukup mampu mewujudkan tujuan tersebut, tidak boleh kurang atau lebih dari batas yang diperlukan, dengan demikian terdapat prinsip keadilan dalam menjatuhkan hukuman. Apabil kondisinya demikian maka hukuman terutama Ta’zir dapat berbeda-beda sesuai dengan perdedaan pelakunya.
Tujuan yang kedua perbaikan dan pendidikan adalah mendidik pelaku jarimah agar ia menjadi orang yang baik dan menyadari kesalahan. Di sini dapat dilihat bagaimana perhatian syari’at Islam terhadap diri pelakunya. Dengan adanya hukuman ini, diharapkan akan timbul dalam diri pelaku suatu kesadaran bahwa ia menjauhi jarimah bukan karena akan hukuman melainkan kesadaran diri dan kebenciannya terhadap jarimah serta dengan harapan mendapat Ridha Allah SWT.
Disamping kebaikan dan pendidikan dalam syari’at Islam dalam menjatuhkan hukuman juga bertujuan membentuk masyarakat yang baik yang diliputi oleh rasa saling menghormati dan mencintai sesama anggotanya dengan mengetahui batas hak dan kewajibannya. Pada hakekatnya suatu jarimah adalah perbuatan yang tidak disenangi dan menginjak-injak keadilan serta membangkitkan kemarahan masyarakat terhadap pembuatnya. Dengan demikian akan terwujud rasa keadilan yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

3. Macam-macam Hukuman
Setelah kami membaca dari beberapa literatur terdapat beberapa penggolongan tentang macam-macam hukuman dapat disimpulkan bahwa macam-macam hukuman dalam Hukum Pidana Islam ialah sebagai berikut:
a. Hukuman Hudud ialah hukuman yang ditetapkan atas jarimah-jarimah hudud yang telah ditetapkan oleh Allah.
b. Hukuman Qishas dan diat yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman qishas dan diat tetapi hukuman ini adalah Hak manusia.
c. Hukuman Kifarat ialah hukuman yang ditetapkan untuk sebagian jarimah qishas dan diat dan beberapa jarimah ta’zir.
d. Hukuman ta’zir yaitu hukuman yang ditetapkan untuk jarimah ta’zir.

4. Gabungan Hukuman
Gabungan Hukuman dapat terjadi manakala terdapat gabuangan jarimah. Gabungan jarimah terjadi apabila seseorang melakukan beberapa macam jarimah, di mana masing-masing jarimah tersebut belum mendapat keputusan terkahir.
Gabungan jarimah adakalanya terjadi dalam lahir saja dan adakalanya benar-benar nyata. Gabungan dalam lahir terdapat apabila pelaku melakukan suatu jarimah yang dapat terkena oleh beberapa macam ketentuan. Sedangkan gabungan Jarimah nyata adalah apabila terjadi beberapa macam perbuatan jarimah dari pelakunya sehingga masing-masing jarimah dianggap sebagai jarimah yang berdiri sendiri.
Dalam hukum Pidana Islam teori tentang bergandanya hukuman sudah dikenal oleh para Fuqaha, tetapi teori tersebut dibatasi deang dua teori yang lain yaitu:
1. Teori saling Melengkapi
Menurut teori ini ketika terjadi gabungan perbuatan maka hukuman-hukumannya saling melengkapi (memasuki), sehingga oleh karenanya semua perbuatan tersebut hanya dijatuhi satu hukuman., seperti kalau seseorang melakukan satu jarimah.
2. Teori Penyerapan
Pengertian penyerapan menurut Syari’at Islam adalah cukup untuk menjatuhkan satu hukuman saja, sehingga hukuman yang lain tidak perlu dijatuhkan. Hukuman dalam konteks ini tidak lain adalah hukuman mati, di mana pelaksanaannya dengan sendirinya menyerap hukuman-hukuman yang lain.

5. Syarat-syarat Hukuman
Agar hukuman itu diakui keberadaanya maka harus dipenuhi tiga syarat di antaranya sebagai berikut:
a. Hukuman Harus ada Dasarnya dari Syara’
Hukuman dianggap mempunyai dasar “ Syari’iyah” apabila di dasarkan kepada sumber-sumber syara seperti al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma atau Undang-undang yang telah ditetapkan oleh lembaga yang berwenang “Ulil Amri” seperti dalam hukuman ta’zir. Dalam hukuman ditetapkan oleh Ulil Amri maka disyaratakn tidak boleh bertetangan dengan ketentuan syara’.
Dengan adanya persyaratan tersebut maka seorang hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman atas dasar pemikirannya sendiri walaupun ia berkeyakinan bahwa hukuman tersebut lebih baik dan lebih utama daripada hukuman yang telah ditetapkan.
b. Hukuman Harus bersifat Pribadi
Hukuman disyaratkan harus bersifat pribadi atau perorangan. Ini tidak mengandung arti bahwa hukuman harus dijatuhkan kepada orang yang melakukan tindak pidana dan tidak mengenai orang lain yang tidak bersalah. Syarat ini merupakan salah satu dasar dan prinsip yang ditegakkan oleh syari’at Islam.
c. Hukuman Harus Bersifat Umum
Hukuman juga disyaratkan harus berlaku umum. Ini mengandung arti bahwa hukuman harus berlaku untuk semua orang tanpa adanya diskriminasi apapun pangkat, jabatan, status dan kedudukannya didepan hukum semua status sama, tidak perbedaan yang kaya dan miskin, antara pejabat dengan rakyat biasa antara bangsawan dan rakyat jelata.

6. Pengguguran Hukuman
Pada dasarnya yang dimaksud dengan gugurnya hukuman di sini adalah tidak dapat dilaksanakannya hukuman-hukuman yang telah ditetapkan atau diputuskan hakim, berhubung tempat badan atau bagiannya untuk melaksanakan hukuman yang sudah tidak ada lagi atau waktu untuk melaksanakannya telah lewat.
Adapun sebab-sebab gugurnya hukuman ialah:
a. Meninggalnya Pelaku
b. Hilangnya Anggota badan yang akan di Qishas
c. Tobatnya pelaku
d. Perdamaian
e. Pengampunan

7. Syubhat
Setelah tingkatan perkara-perkara kecil yang diharamkan, maka di bawahnya adalah syubhat. Yaitu perkara yang tidak diketahui hukumnya oleh orang banyak, yang masih samar-samar kehalalan maupun keharamannya. Perkara ini sama sekali berbeda dengan perkara yang sudah sangat jelas pengharamannya.
Imam Ahmad menafsirkan bahwa syubhat ialah perkara yang berada antara halal dan haram; yakni yang betul-betul halal dan betul-betul haram. Dia berkata, "Barangsiapa yang menjauhinya,berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Yaitu sesuatu yang bercampur antara yang halal dan haram."
Barangsiapa yang masih ragu-ragu terhadap suatu perkara, dan belum jelas kebenaran baginya, maka perkara itu dianggap syubhat, yang harus dia jauhi untuk menyelamatkan agama dan kehormatannya; sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits Muttafaq 'Alaih:
"Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui hukumnya oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang terjerumus ke dalamnya, maka dia telah terjerumus dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang menggembala ternak-nya di sekitar tempat yang masih diragukan bila binatang ternaknya memakan rumput di sana."
Macam-macam Syubhat dapat diadakan menurut bermacam-macam cara peninjauannya.
1. Syubhat Objektif yaitu yang timbul dari objek jarimah “Syubhat fil mahali” karena adanya sesuatu hukum Syari’at seperti pencurian terhadap harta anak sendiri. Pencurian itu sendiri dilarang oleh nash al-Qur’an dalam surat al-maidah ayat 38. dalam nas hadits yang bahwa Engkau dan hartamu menjadi milik ayahmu” Nas hadits menjadi Syubhat bagi pelaksana nas pertama yaitu al-Qur’an yang larangan mencuri dan hukumannya juga.
2. Syubhat Subjektif yaitu syubhat yang bersumber pada dugaan si pembuat di mana ia dengan itikad yang baik melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang atau tidak mengira bahwa perbuatannya itu dilarang. Seperti orang laki-laki yang bercampur dengan seorang perempuan untuk pertama kali karena dikira istrinya, tetapi ternyata kemudian bahwa perempuan itu bukan istrinya. Perkiraan pada diri si pembuat tersebut menimbulkan syubhat yang bisa menghapuskan hukuman had.
3. Syubhat Yuridis yakni syubhat yang timbul dari perbedaan pendapat para Fuqaha tentang hukum sesuatu perbuatan.

8. Sebab-sebab Hapusnya Hukuman
Pada dasarnya sebab-sebab hapusnya hukuman bertalian dengan keadaan diri pembuat, sedang sebab kebolehan sesuatu yang bertalian dengan keadaan perbuatan itu sendiri. Adapun sebab-sebab hapusnya hukuman ialah sebagai berikut:
a. Paksaan
Beberapa pengertian yang telah diberikan oleh para fugaha tentang paksaan.Pertama paksaan ialah suatu perbuatan yang diperbuat oleh seseorang karena orang lain dan oleh karena itu hilang kerelaannya atau tidak sempurna lagi pilihannya. Kedua paksaan ialah suatu perbuatan yang ke luar dari orang yang memaksa dan menimbulkan pada diri orang yang dipaksa suatu keadaan yang mendorong dirinya untuk melakukannya perbuatan yang diperintahkan. Ketiga paksaan merupakan ancaman atas seorang dengan sesuatu yang tidak disenangi untuk mengerjakaannya. Ke empat paksaan ialah apa yang diperintahkan seorang pada orang lain yaitu membahayakan dan menyakitinya.
b. Mabuk
Syari’at Islam melarang minuman Khamar baik sampai mengakibatkan mabuk atau tidak. Minum khamar termasuk jarimah hudud dan dihukum dengan delapan puluh jilid sebagai hukuman pokok.
Mengenai pertanggung jawab pidana bagi orang yang mabuk maka menurut pendapat yang kuat dari empat kalangan mazhab fiqhi ialah bahwa dia tidak dijatuhi hukuman atas jarimah-jarimah yang diperbuatnya, jika ia dipaksa atau secara terpaksa atau dengan kehendak sendiri tapi tidak mengetahui bahwa apa yang diminumnya itu bisa mengakibatkan mabuk.
c. Gila
Seseorang dipandang sebagai orang Mukallaf oleh Syari’at Islam artinya dibebani pertanggungjawaban pidana apabila ia adalah orang yang mempunyai kekuatan berpikir dan kekuatan memilih (idrak dan ikhtiar). Apabila salah satu dari kedua perkara itu tidak ada maka hapus pula pertanggung jawab tersebut.
Oleh karena itu Orang Gila tidak dikenakan hukum Jarimah karena ia tidak mempunyai kekuatan berpikir dan kekuatan meilih dalam bahasa Arab disebut juga Junun atau Gila.
d. Di Bawah Umur
Konsep yang dikemukakan oleh Syari’at Islam tentang pertanggung jawab anak belum dewasa merupakan Konsep yang baik sekali dan meskipun telah lama usianya, namun menyamai teori terbaru di kalangan hukum positif.
Menurut Syari’at Islam pertanggung jawab pidana didasarkan atas dua perkara yaitu ketentuan berpikit dan pilihan iradah dan ikhtiar. Oleh karena itu kedudukan anak kecil berbeda-beda menurut masa yang dilalui hidupnya mulai dari waktu kelahirannya sampai memiliki kdua perkara tersebut.


Percobaan Melakukan Jarimah
Teori tentang jarimah “percobaan” tidak kita dapati di kalangan Fuqaha, bahkan istilah percobaan dengan pengertian teknis yuridis juga tidak dikenal oleh mereka. Apa yang dibicarakan oleh mereka ialah pemisahan antara jarimah yang telah selesai dengan jarimah yang belum selesai. Hal ini tidak berarti bahwa mereka tidak membicarakan isi teori tentang percobaan, sebagaimana yang akan terlihat. Tidak adanya perhatian secara khusus terhadap jarimah percobaan disebabkan karena dua hal:
Pertama, percobaan melakukan jarimah tidak dikenakan hukuman had atau qisas, melainkan melakukan melalui hukuman takzir, bagaimanpun juga macamnya jarimah itu. Para Fuqaha lebih banyak memberikan perhatiannya kepada jarimah-jarimah hudud dan qisas diyat, karena unsur-unsur dan syarat-syarat tetap tanpa mengalami perubahan, dan hukuman juga sudah ditentukan jumlahnya dengan tidak boleh dikurangi atau dilebihkan.
Akan tetapi jarimah-jarimah takzir, dengan mengecualikan jarimah-jarimah takzir seperti memaki-maki (menista orang) atau mengkhianati titipan, maka sebagian besarnya diserahkan kepada penguasa negara (ulul amri) untuk menentukan mecamnya jarimah-jarimah itu. Untuk menetapkan hukuman-hukuman jarimah tersebut, baik yang dilarang dengan langsung oleh syara’ atau yang dilarang oleh penguasa negara tersebut, diserahkan pula kepada mereka, agar bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sesudah itu, hakim diberi wewenang luas dalam menjatuhkan hukuman, dimana ia bisa bergerak antara batas tertinggi dengan batas terendah.
Kebanyakan jarimah takzir bisa mengalami perubahan antara dihukum dan tidak dihukum, dari masa kemasa, dari tempat ketempat lain, dan unsur-unsurnya juga dapat berganti-ganti sesuai dengan pergantian pandangan penguasa-penguasa negara. Oleh karena itu dikalangan para Fuqaha tidak ada perhatian khusus terhadap jarimah-jarimah takzir dan kelanjutannya ialah tidak adanya pembicaraan secara tersendiri terhadap percobaan melakukan jarimah, karena percobaan ini termasuk jarimah takzir.
Kedua, dengan adanya aturan-aturan yang mencakup dari syara’ tentang hukuman jarimah takzir, maka aturan-aturan khusus untuk percobaan tidak perlu diadakan, sebab hukuman takzir dijatuhkan atas setiap perbuatan maksiat (kesalahan) yang tidak dikenakan hukuman had atau kafarat . Pencuri misalnya apabila telah melubangi dinding rumah, kemudian dapat ditangkap sebelum sempat memasukinya, maka perbuatannya itu semata-mata dianggap maksiat (kesalahan) yang bisa dijatuhi hukuman meskipun sebenarnya baru merupakan permulaan dari pelaksanaan jarimah pencurian
Apabila pencurian tersebut dapat berbagai-bagai perbuatan yang membentuk jarimah pencurian dan dapat membawa barang curiannya keluar rumah maka, maka kumpulan perbuatan tersebut dinamakan ‘pencurian’, dan dengan selesainya jarimah pencurian itu maka hukuman had yang telah ditentukan dijatuhkan kepadanya, dan untuk masing-masing perbuatan yang membentuk pencurian itu tidak boleh dikenakan hukuman takzir, sebab masing-masing perbuatan tersebut sudah bercampur menjadi satu, yaitu pencurian.
Disini jelaslah kepada kita, mengapa para Fuqaha tidak membuat pembahasan khusus tentang percobaan melakukan jarimah, sebab yang diperlukan oleh mereka ialah pemisahan antara yang telah selesai dengan jarimah yang tidak selesai, dimana jarimah macam kedua hanya dikenakan hukuman takzir. Sungguhpun istilah “percobaan” tidak dikenakan kepada mereka, namun apa yang dimaksud dengan istilah tersebut terdapat pada mereka, meskipun dengan mengambil istilah lain yaitu jarimah tidak selesai.
Pendirian syara’ tentang percobaan melakukan jarimah lebih mencakup dari padanya hukum-hukum positif, sebab menurut syara’ setiap perbuatan yang tidak selesai disebut maksiat yang dijatuhi hukuman, dan dalam hal ini tidak ada pengecualiannya.
Siapa yang mengangkat tongkat untuk dipukulkan kepada orang lain, maka ia dianggap memperbuat maksiat dan dijatuhi hukuman takzir. Menurut hukum positif tidak semua percobaan melakukan jarimah dihukum. Misalnya pada KUHP RPA (Republik Persatuan Arab) hanya percobaan melakukan jarimah “jinayat” dan beberapa jarimah janhah saja yang dikenakan hukuman.
Menurut KUHP Indonesia percobaan melakukan pelanggaran tidak dapat dihukum Sesuai dengan pendirian dengan syara’, maka pada peristiwa penganiayaan dengan maksud untuk membunuh, apabila penganiayaan itu berakibat kematian, maka perbuatan tersebut termasuk kedalam pembunuhan yang disengaja. Kalau korban dapat sembuh, maka perbuatan tersebut hanya dapat dihukumi sebagai penganiayaan saja, dengan hukumannya yang khusus. Namun, apabila pembuat membunuh korbannya, kemudian tidak mengenai sasarannya, maka perbuatan itu disebut maksiat, dan hukumannya adalah takzir.

Fase-Fase Pelaksanaan
Tiap-tiap jarimah mengalami fase-fase tertentu sebelum terwujud hasilnya. Pembagian fase-fase ini diperlukan sekali, karena hanya pada salah satu fase saja, pembuat dapat dituntut dari segi pidanaan, sedang pada fase-fase lainnya tidak dapat dihukum.
a. Fase Pemikiran dan Perencanaan (Marhalahal Tafkir)
Memikirkan dan merencanakan sesuatu jarimah tidak dianggap maksiat yang dijatuhi hukuman, karena menurut aturan dalam syari’at islam, seseorang tidak dapat dituntut (dipersalahkan) karena lintasan hatinya atau niatan yang tersimpan dalam dirinya, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., sebagai berikut:
ﺇﻦﺍﷲﺗﺟﺎﻮﺯﻷﻣﺗﻰﻋﻤﺎﻭﺴﻭﺴﺕﺃﻮﺤﺩﺛﺖﺒﻪﺃﻨﻔﺴﻬﺎﻣﺎﻠﻡﺘﻌﻣﻝﺒﻪﺃﻭﺘﻜﻟﻣﺕ
Artinya: “Tuhan mema’afkan ummatku dari apa yang dibisikan atau dicetuskan oleh dirinya, selama ia ia tidak berbuat dan tidak mengeluarkan kata-kata. Seseorang hanya dituntut karena kata-kata yang diucapkannya dan perbuatan yang dilakukannya”.
Aturan tersebut sudah terdapat dalam syari’at Islam sejak mula-mula diturunkan tanpa mengenal pengecualian. Akan tetapi pada hukum positif aturan tersebut baru dikenal pada abad ke-18 Masehi, yaitu sesudah revolusi Prancis. Sebelum pada masa itu, niatan dan pemikiran dapat dihukum, kalau dapat dibuktikan. Juga, pada hukum positif terhadap aturan tersebut ada pengecualiannya.

b. Fase Persiapan (Marhalah Al-Tahdhir)
Menyiapkan alat-alat yang dipakai untuk melaksanakan jarimah, seperti membeli sejata untuk membunuh orang lain dan atau membuat kunci palsu untuk mencuri. Fase persiapan juga tidak dianggap sebagai maksiat yang dapat dihukum, kecuali apabila perbuatan persiapan itu sendiri dipandang sebagai maksiat, seperti hendak mencuri milik seseorang dengan cara membiusnya. Dalam contoh ini adalah dengan jalam membeli alat bius atau membius orang lain itu sendiri dianggap maksiat yang dihukum, tanpa memerlukan selesainya maksud yang hendak dituju, yaitu mencuri.
c. Fase Pelaksanaan (Marhalah Al Tanfidz)
Pada fase inilah perbuatan pembuat dianggap sebagai jarimah. Untuk dapat dihukum, tidak menjadi persoalan, apakah perbuatan tersebut merupakan permulaan pelaksanaan unsur materiil jarimah atau tidak, melainkan cukup dihukum apabila perbuatan itu berupa maksiat, yaitu yang berupa pelanggaran atas hak masyarakat dan hak perseorangan, dan dimaksudkan pula untuk melaksanakan unsur materiil, meskipun antara perbuatan tersebut dengan unsur materiil masih terdapat beberapa langkah lagi.
Pada pencurian misalnya, melobangi tembok, membongkar pintu dan sebagainya dianggap sebagai maksiat yang dijatuhi hukuman takzir, dan selanjutnya dianggap pula percobaan pencurian, meskipun untuk terwujudnya perbuatan pencurian masih terdapat perbuatan-perbuatan lain lagi, seperti masuk rumah, mengambil barang dari lemari, dan membawanya keluar dan sebagainya

.
d. Pendirian Hukum Positip
Dalam kitab undang-undang hukum pidana (wetboek van strafrecht) (S. 1915-732 jis. S. 1917-497, 645, mb. 1 Januari 1918, s.d.u.t. dg. UU No. 1/1946). Pada Bab ke IV tentang percobaan pasal 53:
1. Percobaan untuk melakukan kejahatan dipidana, bila niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan oleh kemauannya sendiri. (KUHP 154 5, 3024, 3515.)
2. Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan dikurangi sepertiganya dalam hal percobaan.
3. Bila kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
4. Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan pidana tambahan bagi kejahatan yang telah diselesaikan. (KUHP 54, 86 dst., 1845, 3024 , 3515, 3522.)
Pasal 54.
Percobaan untuk melakukan pelanggaran tidak dipidana. (KUHP 60; Inv.Sw. 46.).

Pencobaan Melakukan Jarimah Mustahil
Dikalangan Fuqaha nampak adanya pembahasan tetang percobaan melakukan “jarimah mustahil” yang terkenal dikalangan para sarjana-sarjana hukum positif dengan nama ”ondeug delijk poging” (percobaan tak terkena = ﺍﻠﺸﺭﻮﻉ ﻓﻰﺍﻟﺟﺮﻳﻣﺔ ﺍﻟﻣﺳﺘﺣﻳﻠﺔ, asy-syuru’ fi al jarimah al mustahil), yaitu suatu jarimah yang tidak mungkin terjadi (mustahil) karena alat-alat yang dipakai melakukannya tidak sesuai, seperti orang yang mengarahkan senjata kepada orang lain dengan maksud untuk membunuhnya, tetapi ia sendiri tidak tahu bahwa senjata itu tidak ada pelurunya atau ada kerusakan bagian-bagiannya, sehingga orang lain tersebut tidak meninggal. Atau boleh jadi karena barang atau perkara (voorwerp) yang menjadi objek pembuatnya tidak ada, seperti orang menembak orang lain dengan maksud untuk membunuhnya, sedang sebenarnya orang tersebut telah meninggal sebelumnya.
Biasanya dibedakan antara “percobaan-tak-terkena-absolut” dengan “percobaan-tak-terkena-relatif” (absolut ondeug delijk poging dengan relatief ondeug delijk poging). Apabila ada seseorang yang hendak meracuni orang lain bukan dengan bahan racun atau dengan bahan racun tetapi sedikit sekali, sehingga tidak menyebabkan matinya korban. Atau pengguran kandungan dengan sengaja terhadap seorang wanita yang sebebenarnya tidak hamil. Dalam kedua contoh tersebut, perbuatan-perbuatan itu disebut, “percobaan-tak-terkena-absolut”. Akan tetapi pada contoh pertama disebut absolut (mustahil) dari alat yang dipakai (midded) maka pada contoh kedua adalah absolut (mustahil) dari segi perkara yang menjadi objek (voorwerp).
Apabila pada peracun sebenarnya racun yang diberikan sudah cukup mencapai dosisnya, akan tetapi orang yang diracun kuat badannya sedemikian rupa, sehingga ia tidak meninggal, maka perbuatan tersebut disebut “percobaan-tak-terkena-relatif” dari segi alat. Atau seseorang yang mencoba meledakkan gudang alat senjata dengan bom pembakar; akan tetapi kebetulan alat senjata tersebut sedang basah. Perbuatan ini disebut “perbuatan-tak-terkena-relatif” dari segi perkara yang menjadi objek jarimah.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ahmad, Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1991
_______, Asas-asas Hukum Pidana Islam, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1993,
Amir Nuruddin, Ijtihad Umar Ibnu Al-Khattab, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, 1991
Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1991
Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, Penerbit Ghalia Indonesia, Yogyakarta, 1998
-------------, Kapita Selekta Hukum Pidana, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1998,
Bardan Nawawi Arif, Perbandingan Hukum Pidana, Penerbit Rajawali Grafindo Persada, Jakarta, 1994
C.S.T. Cansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1999
Djoko Prakoso, Pembaruan Hukum Pidana di Indonesia, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1997
HA. Djazuli, Fiqih Jinaya, Penerbit Grafindo Persada, Jakarta, 1996
J.E. Sahetapy, Hukum Pidana, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1995
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1993,
---------------, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 1994.
Muhammad Daud Ali, Asas-Asas Hukum Islam, Penebit Rajawali Press, Jakarta, 1990.
Mukhtar Yahya dan Faturrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, Penerbit Al-Ma’arif, Bandung, 1993.
P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.
Sarjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit UI Press, Jakarta, 1994,
WJS. Poerdaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, Cet. Ke 1, 1976
Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kompilasi Hukum Islam
Abul A’la al-Maududi, Prinsip-prinsip Islaam, Penerbit PT aal-Ma’arif, Bandung, 1991.

Sabtu, 31 Januari 2009

TEO DEMOKRASI


Makna Teo-Demokrasi

Konsep teo-demokrasi merupakan konsep sistem politik Islam yang digagas oleh Abul A’la al-Maududi (lahir 1903), ulama Pakistan yang mendirikan gerakan Islam Jamaat-e-Islami pada tahun 1940-an. Konsep itu dituangkan dalam bukunya yang terkenal, Al-Khilâfah wa al-Mulk (Khilafah dan Kekuasaan), yang terbit di Kuwait tahun 1978.

Seperti dapat diduga dari istilahnya, konsep teo-demokrasi adalah akomodasi ide teokrasi dengan ide demokrasi. Namun, ini tak berarti al-Maududi menerima secara mutlak konsep teokrasi dan demokrasi ala Barat. Al-Maududi dengan tegas menolak teori kedaulatan rakyat (inti demokrasi), berdasarkan dua alasan:

Pertama, karena menurutnya kedaulatan tertinggi adalah di tangan Tuhan. Tuhan sajalah yang berhak menjadi pembuat hukum (law giver). Manusia tidak berhak membuat hukum.

Kedua, karena praktik “kedaulatan rakyat” sering justru menjadi omong-kosong. Partisipasi politik rakyat dalam kenyataannya hanya dilakukan setiap empat atau lima tahun sekali saat Pemilu, sedangkan kendali pemerintahan sehari-hari sesungguhnya berada di tangan segelintir penguasa yang—sekalipun mengatasnamakan rakyat—sering malah menindas rakyat demi kepentingan pribadi (Amien Rais, 1988: 19-21).

Namun demikian, ada satu aspek demokrasi yang diterima al-Maududi, yakni bahwa kekuasaan (Khilafah) ada di tangan setiap individu kaum Mukmin. Khilafah tidak dikhususkan bagi kelompok atau kelas tertentu. Inilah yang—menurut al-Maududi— membedakan sistem Khilafah dengan sistem kerajaan. Dari sinilah al-Maududi lalu menyimpulkan, “Dan ini pulalah yang mengarahkan Khilafah Islamiyah ke arah demokrasi, meskipun terdapat perbedaan asasi antara demokrasi Islami dan demokrasi Barat...” (Al-Maududi, 1988: 67).

Mengenai teokrasi, yang juga menjadi akar konsep teo-demokrasi, sebenarnya juga ditolak oleh al-Maududi, terutama teokrasi model Eropa pada Abad Pertengahan di mana penguasa (raja) mendominasi kekuasaan dan membuat hukum sendiri atas nama Tuhan (Amien Rais, 1988: 22). Meskipun demikian, ada anasir teokrasi yang diambil al-Maududi, yakni pengertian kedaulatan tertinggi ada di tangan Allah. Dengan demikian, menurut al-Maududi, rakyat mengakui kedaulatan tertingggi ada di tangan Allah, dan kemudian, dengan sukarela dan atas keinginan rakyat sendiri, menjadikan kekuasaannya dibatasi oleh batasan-batasan perundang-undangan Allah Swt. (Al-Maududi, 1988: 67).

Walhasil, secara esensial, konsep teo-demokrasi berarti bahwa Islam memberikan kekuasaan kepada rakyat, tetapi kekuasaan itu dibatasi oleh norma-norma yang datangnya dari Tuhan. Dengan kata lain, teo-demokrasi adalah sebuah kedaulatan rakyat yang terbatas di bawah pengawasan Tuhan. Atau, seperti diistilahkan al-Maududi, a limited popular sovereignty under suzerainty of God (Amien Rais, 1988: 23-24). Dalam bukunya yang lain, yaitu Islamic Law and Constitution (1962: 138-139), al-Maududi menggunakan istilah divine democracy (demokrasi suci) atau popular vicegerency (kekuasaan suci yang bersifat kerakyatan) untuk menyebut konsep negara dalam Islam (Asshidiqie, 1995: 17).

Penggunaan Istilah Teo-Demokrasi

Catatan kritis pertama adalah penggunaan istilah teo-demokrasi itu sendiri. Bolehkah kita menggunakan istilah Barat yang maknanya bertentangan dengan Islam, seperti teokrasi dan demokrasi, lalu diberi makna baru atau catatan-catatan agar tidak bertentangan dengan Islam?

Memang, al-Maududi sendiri menolak konsep teokrasi dan demokrasi ala Barat yang sekular. Benar pula bahwa beliau pun lalu memberikan muatan makna baru yang islami seraya menolak muatan makna yang sekular. Namun, beliau sendiri tidak pernah menjelaskan argumentasi yang membolehkan pemaknaan ulang suatu istilah asing seperti yang dia lakukan. Inilah kiranya satu celah kelemahan konsep teo-demokrasi.

Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, jika suatu istilah asing mempunyai makna yang bertentangan dengan Islam, istilah itu tidak boleh digunakan. Sebaliknya, jika maknanya terdapat dalam khazanah pemikiran Islam, istilah tersebut boleh digunakan (An-Nabhani, 2001: 85-86). Dalam hal ini, Islam telah melarang umatnya untuk menggunakan istilah-istilah yang menimbulkan kerancuan, apalagi kerancuan yang menghasilkan pengertian-pengertian yang bertolak belakang antara pengertian yang islami dan yang tidak islami. Allah Swt. berfirman:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا[

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan (kepada Muhammad), “Râ’inâ,” tetapi katakanlah, “Unzhurnâ,”…. (QS al Baqarah [2]: 104).

Râ’inâ artinya, “sudilah kiranya Anda memperhatikan kami.” Pada saat para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut râ’inâ, padahal yang mereka katakan adalah ru’ûnah, yang artinya “amat bodoh.” Itulah sebabnya, Allah menyuruh supaya para sahabat menukar perkataan râ’inâ dengan unzhurnâ, yang sama artinya. Oleh Ihsan Sammarah, dalam kitabnya, Mafhûm al-Adalah al-Ijtimâ‘iyah fî al-Fikrî al-Islâmî al-Mu‘âshir (1991), ayat ini dijadikan dalil untuk menolak penggunaan istilah yang dapat menimbulkan kerancuan atau bias, yang pengertiannya kemungkinan berupa makna islami atau makna yang tidak Islami. Karena itu, penggunaan istilah demokrasi, teokrasi, atau teo-demokrasi tidak dapat diterima, karena pengertiannya mengandung ambivalensi antara yang mengartikannya menurut perspektif sekular dan yang mengartikannya menurut perspektif Islam. (Abdullah, 1996: 10-11).

Kedaulatan dan Kekuasaan

Catatan kritis kedua, bahwa konsep teo-demokrasi tidak secara jernih membedakan kedaulatan dan kekuasaan dalam perspektif Islam. Ada semacam kerancuan. Bahkan terkesan keduanya dicampuradukkan menjadi satu, karena kata teo mewakili konsep kedaulatan Tuhan (teokrasi), sedang kata demokrasi mewakili konsep kekuasaan rakyat. Meski disayangkan, namun hal ini wajar terjadi, karena dalam pemikiran politik Barat yang dominan di seluruh dunia, kedua hal tersebut memang berasal dari satu sumber yang sama, yaitu rakyat. Sebab, rakyat menurut Barat adalah sumber legislasi (source of legislation) sekaligus sumber kekuasaan (source of power).

Meski demikian, sesungguhnya kedaulatan dan kekuasaan dapat dibedakan. Kedaulatan (as-siyâdah, sovereignty) merupakan konsep yang berkaitan dengan kewenangan membuat hukum (legislasi). Sedangkan kekuasaan (as-sulthan, authority) berkaitan dengan siapa yang berwenang menerapkan hukum itu dalam kekuasaan (Al-Khalidi, 1980: 24; Al-Jawi, 2003: 209-210).

Berdasarkan pembedaan inilah, maka An-Nabhani (1990: 38-40) merumuskan konsepnya mengenai kedaulatan dan kekuasaan dalam Islam. Kedaulatan (as-siyâdah) dalam Islam ada di tangan syariat (as-siyâdah li asy-syar‘i), bukan di tangan rakyat. Rakyat tidak berhak membuat hukum, sebab yang menjadi Pembuat Hukum (Al-Musyarri’, Law Maker) hanyalah Allah Swt. (Lihat, misalnya, QS al-An‘am [6]: 57). Adapun kekuasaan (as-sulthân) ada di tangan umat (as-sulthân li al-ummah), sebab umatlah yang berhak membaiat siapa saja yang dikehendakinya untuk menjadi penguasa (khalifah). Dengan pembedaan yang tegas antara konsep kedaulatan dan kekuasaan ini, seperti dirumuskan oleh An-Nabhani, kerancuan berpikir tidak akan terjadi. Ini tentu berbeda dengan konsep teo-demokrasi yang menggabungkan konsep kedaulatan dan kekuasaan menjadi satu sehingga masih berpeluang merancukan dan menggelincirkan pemahaman.

Kedaulatan Tuhan

Catatan kritis ketiga, berkaitan dengan diakomodasinya konsep “kedaulatan Tuhan” (teokrasi) dalam konsep teo-demokrasi al-Maududi. Dalam hal ini, perlu kiranya dicermati, bahwa An-Nabhani mengusulkan konsep “kedaulatan di tangan syariat”, dan bukan konsep “kedaulatan Tuhan”. Secara substansial memang tidak ada perbedaan antara an-Nabhani dengan al-Maududi mengenai maknanya, yakni bahwa yang berhak membuat hukum hanya Allah semata dan manusia tidak berhak membuat hukum. Namun, di sini terlihat dengan jelas bahwa an-Nabhani berusaha dengan amat hati-hati untuk tidak menggunakan istilah “kedaulatan Tuhan” yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Sikap an-Nabhani tersebut akan dapat dipahami karena dalam teori “kedaulatan Tuhan” terkandung konsep yang bertentangan dengan Islam. Teori “kedaulatan Tuhan” tak dapat dilepaskan dari konsep teokrasi yang berkembang di Barat pada Abad Pertengahan (abad ke-5 s/d ke-15 M). Menurut The Concise Oxford Dictionary, hal. 1321, istilah teokrasi dikaitkan dengan pemerintahan atau negara yang diperintah oleh Tuhan, baik secara langsung maupun melalui kelas kependetaan (Asshidiqie, 1995: 23). Dalam teokrasi Barat ini, konsep “kedaulatan Tuhan” mempunyai arti bahwa yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan adalah Tuhan. Selanjutnya, Tuhan mewakilkan kekuasaan-Nya kepada raja atau Paus (Amiruddin, 2000: 103-104). Karena mewakili Tuhan, maka segala perilaku raja atau Paus selalu terjaga dari kesalahan atau suci (ma‘shûm, infellible). Jadi, negara teokrasi—yang menjalankan teori kedaulatan Tuhan—merupakan negara yang dipimpin oleh gerejawan atau raja yang menganggap segala perilaku mereka terjaga dari kesalahan dan suci. Maka dari itu, apa yang mereka halalkan di bumi, tentu halal pula di langit. Apa yang mereka haramkan di dunia, tentu diharamkan pula di langit (Lihat: Dr. Yusuf Qaradhawy, Fiqih Daulah, hlm. 81). Bahkan menurut Imam Khomeini, tokoh kaum Syiah yang sangat terpengaruh dengan konsep teokrasi Eropa, kesucian para pemimpin/penguasa, berada pada martabat yang sangat tinggi, yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh para nabi maupun malaikat muqarrabin (Lihat: Al-Imam Al-Khomeini, “Al-Wilâyah at-Takwîniyah,” Al-Hukumah Al-Islamiyah, hlm. 52).

Dari uraian sekilas ini, tampak bahwa teori “kedaulatan Tuhan” sungguh tidak dapat dilepaskan dari konsep teokrasi yang bertentangan dengan Islam.

Setidaknya ada tiga poin krusial yang menunjukkan kontradiksi teori “kedaulatan Tuhan” (teokrasi) dengan Islam. Pertama, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi, sedangkan dalam Islam, seorang khalifah dalam negara Khilafah adalah wakil umat—bukan wakil Tuhan— dalam urusan kekuasaan dan penerapan syariat Islam (An-Nabhani, 1990: 48). Kedua, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa bersifat ma‘shûm, sedangkan dalam Islam, seorang khalifah bukan orang ma‘shûm; bisa saja dia berbuat dosa dan kesalahan. Karena itulah, amar makruf nahi mungkar disyariatkan (An-Nabhani, 1990: 119-121). Ketiga, dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa atau gerejawan membuat undang-undang atau hukum yang berasal dari dirinya sendiri tanpa suatu acuan dan pedoman yang jelas dari wahyu Tuhan, sedangkan dalam Islam, penguasa mengadopsi hukum-hukum syariat berdasarkan ijtihad yang sahih dengan acuan dan pedoman yang jelas, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (Djaelani, 1994: 86-87). Walhasil, adanya kontradiksi tajam antara “kedaulatan Tuhan” dan Islam inilah yang kemungkinan membuat An-Nabhani berhati-hati merumuskan konsepnya sebagai “kedaulatan di tangan syariat” (as-siyâdah li asy-syar‘i), bukan kedaulatan di tangan Allah (as-siyâdah li Allâh), demi kejernihan pemikiran.

Penutup

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa konsep teo-demokrasi lebih banyak mendatangkan masalah dan kerumitan baru daripada mendatangkan kecemerlangan dan penyelesaian berbagai masalah. Dalam beberapa hal, konsep teo-demokrasi cukup bisa membedakan dengan kontras sistem Khilafah dan kerajaan. Akan tetapi, konsep ini tidak bisa membedakan secara jelas perbedaan sistem republik—atau republik Islam—dengan sistem Khilafah. Ini tentunya wajar karena konsep teo-demokrasi memang didasarkan pada sikap akomodatif antara Islam dan ide demokrasi, sebagai dasar sistem republik. Jika ini yang terjadi, maka terwujudnya sistem Khilafah akan mengalami hambatan dan akan memakan waktu lebih lama. Sebab, bisa jadi para aktivisnya terkecoh dengan jalan perjuangan kooperatif melalui perbaikan sistem republik yang ada. Apalagi kalau namanya sedikit diganti menjadi “republik Islam”, seperti misalnya Republik Islam Pakistan.

Sudah selayaknya, kejernihan dan kecemerlangan berpikir selalu dikedepankan dalam upaya menuju kebangkitan umat. Sebab, umat Islam tidak akan mungkin mengalami kebangkitan pemikiran, kecuali dengan kembali mengambil pemikiran-pemikiran yang cemerlang (mustanîr). Konsep yang kabur atau kurang jelas sudah selayaknya dikesampingkan untuk menuju konsep yang lebih jernih dan cemerlang. Bukankah Nabi saw. telah bersabda:

«دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلىَ مَا لاَ يُرِيْبُكَ»

Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan ath-Thabrani).

Daftar Pustaka

1 Abdullah, Muhammad Husain. 1996. Mafâhîm Islâmiyyah. Juz II. Cetakan I. Beirut: Darul Bayariq.

2 Al-Jawi, M. Shiddiq. 2003. “Must Islam Accept Democracy?” dalam David Bourchier & Vedi R. Hadiz (Editor). Indonesian Politics and Society: A Reader. London-New York: RoutledgeCurzon, hlm. 207-211.

3 Al-Khalidi, Mahmud Abdul Majid. 1980. Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm. Cetakan I. Kuwait: Darul Buhuts al-‘Ilmiyah.

4 Al-Maududi, Abul A’la. 1988. Khilafah dan Kerajaan (Al-Khilâfah wa Al-Mulk). Alih Bahasa Muhammad al-Baqir. Cetakan II. Bandung: Mizan.

5 Amiruddin, M. Hasbi. 2000. “Teori Kedaulatan Tuhan”. Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman. Cetakan I. Yogyakarta: UII Press, hlm. 103-105.

6 An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Nizhâm al-Islâm. Cetakan VI. t.tp. : t.p.

7 Asshidiqie, Jimly. 1995. Islam dan Kedaulatan Rakyat. Cetakan I. Jakarta: Gema Insani Press.

8 Djaelani, Abdul Qadir. 1994. “Kedaulatan Tertinggi dalam Negara”. Sekitar Pemikiran Politik Islam. Jakarta: Media Dakwah, hlm. 83-87.

9 Khomeini, Imam. Tanpa tahun. Al-Hukûmah al-Islâmiyyah. T.tp. : t.p.

10 Rais, Amien. 1988. “Kata Pengantar”. Khilafah dan Kerajaan (Al-Khilâfah wa Al-Mulk). Alih Bahasa Muhammad al-Baqir. Cetakan II. Bandung: Mizan.

11 Sammarah, Ihsan. 1991. Mafhûm al-‘Adalah al-Ijtimâ‘iyyah fî al-Fikrî al-Islâmî al-Mu‘âshir. Cetakan II. Beirut: Dar an-Nahdhah al-Islamiyah.


Oleh: M. Shiddiq Al-Jawi
Publikasi : Majalah Al-Waie No. 42

KONSEP NEGARA ISLAM




Konsep Negara Islam

Moh.Yusram

Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Ciri-Ciri Negara Islam

Terdapat tiga ciri-ciri penting di dalam menegakkan Negara Islam.

  1. Syariat Islam yang mesti dipatuhi kepadanya.
  2. Umat yang mendokonginya
  3. Pemerintahan Islam yang menaunginya.

Syariat Islam Yang Mesti Dipatuhi Kepadanya

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) kerana membela (orang-orang yang khianat)."

Firman Allah SWT lagi yang bermaksud:

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."

Syariat Allah wajib menjadi aqidah negara dan pegangan kerajaan. Perlembagaan dan segala urusan pemerintahan hendaklahdirujuk kepadanya, kerana menurut Islam;

  • Semua manusia tanpa mengira bangsa, warna kulit dan peringkat adalah hamba kepada Allah. Tidak harus bagi manusia berlagak menjadi Tuhan sama ada orang perseorangan atau kumpulan. Sebarang tindakan atau amalan mempersucikan manusia. Memberi kuasa mutlak kepada orang perseorangan atau kumpulan yang mengadakan hukum syariat menurut kemahuan adalah syirik dan mengaku mempunyai hak ketuhanan.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka daripada perkara ad-Deen yang tidak diizinkan oleh Allah."

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehinggalah mereka menjadikan kamu (Muhammad SAW) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

  • Semua manusia adalah sama dari segi asal usul mereka dan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun berbagai-bagai bangsa dan menggunakan berbagai-bagai bahasa. Mereka tetap mempunyai titik persamaan sebagai manusia yang bersifat manusia dan semua mereka adalah hamba Allah.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami mencipta kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kullit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui."

  • Setiap orang mempunyai tanggungjawab sebagai makhluk sama ada ia pemerintah atau rakyat biasa.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepada-Ku."

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud"

"Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang rakyatnya. Imam (Ketua Negara) adalah pemimpin. ia akan ditanya tentang rakyatnya, seorang lelaki pemimpin pada ahlinya dan ia akan ditanya tentang rakyatnya, seorang perempuan itu pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan ia ditanya tentang rakyatnya, dan khadam itu menjadi pemimpin urusan harta tuannya dan ia akan ditanya tentang rakyatnya dan seorang anak menjadi pemimpin menggunakan harta ayahnya dan ia ditanya tentang rakyatnya, maka semua kamu adalah pemimpin dan ditanya tentang rakyatnya."

Tanggungjawab itu ada dua bahagia.

1. Di dunia yang mesti diatur menurut syariat Allah.

2. Di akhirat di mana ia bertanggungjawab di hadapan Allah SWT.

  • Sumber hukum syariat kepada manusia sama sahaja dengan sumber peraturan tabi'e kepada makhluk lain. Mereka mestilah patuh kepada apa yang ditentukan oleh Allah dan manusia pula menerima taklimat Hukum Allah dari para Rasul yang dipilih oleh Allah. Syariat tersebut benar-benar menepati fitrah (naluri) manusia dan ditetapkan secara qat'i (putus) dalam perkara-perkara yang tidak dapat di capai oleh akal manusia dan diberi dasar umum dalam perkara yang dapat dikaji dengan akal yang betul dan dinyatakan batas-batas agar manusia tidak terlanjur dengan akalnya semata-mata. Dalam konteks Negara Islam, terdapat begitu banyak sumber-sumber yang boleh dipakai sepanjang zaman. Di antara sumber-sumbernya ialah:
  1. Al-Quranul Karim, yang diwahyukan dari Allah SWT. Di dalamnya terkandung semua perkara-perkara dalam kehidupan manusia, bermula dari perkara hubungan mereka dengan Allah SWT sehingga kepada hubungan mereka dengan bahan-bahan yang ada di atas muka bumi yang ditugaskan mereka memakmurkannya. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menjadi perlembagaan Negara Islam , yang menjadi dasar dan hukum pembentukan masyarakat dan segala kegiatan yang mempunyai matlamat yang sebenar.
  2. Sunnah Rasulullah SAW. Bagaimana Rasulullah SAW mempraktikkan Hukum Allah SWT yang ada di dalam al-Quranul Karim. Bagaimana Rasulullah SAW melaksanakan Islam di dalam masyarakat dan negara yang paling majmuk. Darinya kita dapat memahami bagaimana dan ke arah mana al-Quran itu diamalkan.
  3. Perjalanan Al-Kulafah ar-Rasyidin. Mereka yang menjadi Ketua Negara selepas wafatnya Rasulullah SAW. Melalui perjalanannya kita dapat memahami bagaimana penyelesaian yang kadang-kadang ada perkara yang tidak timbul di zaman Rasulullah SAW, tetapi dapat di hadapi dengan selamat berdasarkan al-Quran dan Hadith Nabi SAW.
  4. Pendapat Ulama' Muhtahiddin. Iaitu mereka yang memahami isi kandungan al-Quran dan Hadith dan juga masalah semasa dengan pandangan-pandangan tajam sehingga dapat diputuskan hukum dan menyelesaikan semua masalah. Di dalam kitab-kitab karangan mereka amat kaya dengan bahan-bahan untuk Negara Islam.
  • Tegaknya Negara Islam itu hendaklah di atas dasar membebaskan manusia dari pengabdian sesama makhluk kepada hanya mengabdikan diri kepada Allah SWT. Apabila dasar pengabdian diri hanya kepada Allah SWT dijunjung di dalam sesebuah negara, maka berlakulah keadilan sejagat dan mutlak. Tiadalah manusia dianggap istimewa di dalam melaksanakan undang-undang kepadanya. Inilah yang diucapkan oleh Raba'i bin Amir kepada Rustam, panglima tentera Farsi yang bermaksud:

"Allah membangkitkan kami untuk menyelamatkan sesiapa yang mahu lari dari mengabdikan diri kepada sesama hamba (manusia) kepada mengabdikan diri kepada Allah dari kezaliman berbagai-bagai ajaran kepada keadilan Islam dan dari kesempitan dunia kepada yang luas terbentang."

Syariat Islam itu mampu memenuhi keperluan manusia sejagat dalam semua keadaan dan masa kerana ia mempunyai beberapa sifat keistimewaan yang tidak ada pada ajaran yang lain. Bagi menghuraikannya satu persatu memerlukan ruang yang panjang, saya hanyalah mengemukakan secara rengkas untuk menjadi asas perbincangan kita bersama. Di antaranya ialah:

1. Beriman kepada Allah yang membawa kepada ketundukan dan kepatuhan yang ikhlas bagi menegakkan hukum agama-Nya. Menjadikan seseorang itu tidak ragu-ragu tentang kejayaan Hukum Islam yang diberikan jaminan oleh Allah SWT lalu ia tidak membuat pilihan lain lagi. Tidak lagi dipengaruhi oleh kepentingan diri atau puak. Perlaksanaan dari hati ikhlas dan bukannya berpura-pura untuk menarik sokongan manusia semata-mata. Ia tetap menegakkan keadilan dan kebenaran walaupun ia jatuh dan tumbang kerananya. Tanggungjawab seseorang yang beriman itu bukan sahaja di dunia tetapi ia menyedari matlamatnya iaitu mengabdikan diri hanya kepada Allah SWT. Maka tiadalah sikap mengabdikan diri sesama manusia atau mempermainkan mereka dengan kuasa pemerintahan yang ada.

2. Kemanusiaan sejagat. Di mana hukum Islam itu menjadi rahmat kepada manusia seluruhnya. Bukan hanya untuk sesuatu bangsa atau sesuatu kawasan atau menurut sempadan negeri sahaja. Fahaman Asobiyyah yang termasuk di dalam fahaman nasionalisme adalah bertentangan dengan Islam. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Bukan dari kalangan kami, orang yang menyeru ke jalan asobiyyah. Dan bukan dari kalangan kami orang yang berjuang di atas jalan asobiyyah dan bukan dari kalangan kami orang yang mati di atas dasar asobiyyah."

Apabila ditanya, apakah makna asobiyyah, Rasulullah SAW menjawab yang bermaksud:

"Kamu menolong kaummu di atas dasar kezaliman."

Maka tiada orang yang istimewa di bawah undang-undang atau membahagikan hak kerana apabila meletakkan sesuatu tidak kena pada tempatnya adalah zalim.

3. Keadilan mutlak, yang mesti ditegakkan di kalangan manusia ke arah mewujudkan persaudaraan di kalangan mereka. Memelihara kebebasan beragama walaupun kita tetap menyatakan bahawa Islamlah satu-satunya agama yang benar. Memelihara nyawa, akal, akhlak, keturunan dan hartabenda kerana semua manusia adalah hamba Allah SWT dan bukannya hamba kepada negara dan kerajaan. Kerajaan Islam adalah pelaksana hukum Allah SWT dan bukannya pembuat atau pengubal hukum menurut kemahuan merekadalam perkara yang tidak diizinkan oleh agama. Sejarah Islam kaya dengan contoh-contoh keadilan dan menolak kezaliman. Keadilan mestilah ditegakkan walaupun terhadap musuh negara. Apa lagi terhadap rakyat termasuk rakyat bukan Islam yang memberi taat setia kepada Negara Islam. Keadilan itu berlaku dalam semua perkara. Bukan sahaja di mahkamah tetapi juga di dalam pentadbiran dan pembahagian hak.

4. Pertimbangan di antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Ini berbeza dengan negara-negara kapitalis yang terlalu memberi hak kepada individu sehingga menjejaskan kepentingan masyarakat. Tidak juga seperti negara komunis dan sosialis yang melampau dalam membela kepentingan masyarakat, kononnya tetapi sebaliknya merampas beberapa hak individu. Di antara contoh yang nyata di dalam perkara ini ialah dalam aspek memberi hak milik kepada rakyat. Di dalam al-Quran dan al-Hadith Nabi SAW, menyatakan bahawa di antara sifat manusia ialah memiliki sesuatu dan hidup bermasyarakat. Oleh itu beberapa perkara yang menjadi sumbangan kepada masyarakat di wajibkan di dalam Islam, seperti zakat dan lain-lain tanpa menghapuskan naluri kepentingan individu yang ada pada manusia.

5. Thabat dan Marunah (Teguh dan Anjal) Iaitu teguh dalam perkara-perkara dasar dan beberapa perkara cabang serta perkara yang menjadi matlamat manusia yang tidak mampu mereka tentukan dengan akal mereka semata-mata. Islam tidak pernah mengikat penggunaan ilmu pengetahuan yang betul di dalam menghadapi perubahan masyarakat menurut masa dan tempat lalu diizinkan berijtihad kepada orang yang mempunyai keahlian dan memberi hak yang dinamakan siasah syariah kepada pemerintah mengendalikan masyarakat dan negara yang mengalami cabaran dan situasi yang berbeza-beza tanpa menyanggah Hukum Islam yang tetap untuk memberi kebaikan kepada manusia.

Mendaulatkan Syariat Islamiyyah

Negara Islam ialah negara yang mendaulatkan Hukum Allah SWT, di mana ia mestilah dibuktikan dengan perkara-perkara berikut:

1. Syariat Islamiyyah hendaklah menjadi aqidah negara dan dari aqidah itulah ditegakkan Perlembagaan, Perundangan dan segala nizamnya.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah dipesankan dengannya akan Nabi Nuh, yang diwahyukan kepadamu dan dipesankan dengannya akan Ibrahim, Musa dan Isa agar kamu menegakkan agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya."

Jika negara itu dari awal-awal lagi tidak meletakkan Islam ke taraf tersebut seperti hanya diberikan tempat dan ruang di dalam Perlembagaan, di samping mengizinkan hukum-hukum lain mengatasi Hukum Islam maka ia dianggap syirik dan tiada nilai keIslaman yang sebenar di dalam kegiatan Islam atau yang bernama Islam. Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-Nabi sebelummu, jika kamu syirik nescaya akan hapuslah amalan dan tentulah kamu termasuk di kalangan orang-orang yang rugi."

Apa yang tersebut bukanlah suatu kongkongan daripada keteguhan. Jalan yang ada di dalam Islam sudah cukup untuk memberi peluang yang seluas-luasnya kepada negara yang mengendalikan urusannya dan sebarang penerimaan yang lain adalah anggapan seolah-olah Islam ini tidak mempunyai kesempurnaan, Na'uzu billai min zalik.

2. Syariat Islamiyyah itu hendaklah diletakkan paling tinggi. Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Iaitu janganlah ada hukum atau undang-undang lain yang mengatasi hukum atau undang-undang atau mengatasi syariat Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Adalah bertentangan dengan Islam bahkan menipu rakyat apabila sesebuah negara menjadikan Islam sekadar agama Negara atau Islam dijadikan salah satu sumber rujukan sahaja dan sebaliknya mengamalkan perkara-perkara yang bertentangan dengan Islam.

3. Perlaksanaan yang syumul (menyeluruh). Sebagaimana yang di fahami, Islam adalah agama yang syumul dan sempurna. Ajarannya mencakupi segala aspek kehidupan seperti aqidah, syariah, akhlak dan nizam, kerohanian dan kebendaan, kepentingan individu dan masyarakat. Tiap-tiap aspek ini berhubungkait di antara satu sama lain. Tanpa perlaksanaan yang menyeluruh nescaya akan gagal untuk mengatasi segala masalah. Oleh itu wajiblah bagi Negara Islam itu melaksanakan sifatnya yang syumul.

Memang tidak dapat dinafikan bahawa ada perkara-perkara yang dilakukan secara tadaruj (berperingkat) tetapi penerimaannya sebagai dasar negara secara menyeluruh adalah wajib. Islam tidak mengiktiraf penerimaan secara serpihan sahaja. Sesungguhnya melaksanakan Islam secara serpihan sahaja adalah suatu penyelewengan.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah. Dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu mereka dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada kamu."

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Sesiapa yang dengan pertolongannya menghalang perlaksanaan hukum Hudud (kanun Kesiksaan) maka sesungguhnya ia menentang Allah pada hukum-Nya."

Jika membatalkan satu Hukum Allah di anggap menentang-Nya dan derhaka maka bagaimana dengan mereka yang membatalkan lebih dari satu?

Sebarang perlaksanaan Islam oleh Negara Islam hendaklah menyatakan dasarnya yang jelas, niat yang ikhlas dan perancangan yang betul dan tepat dengan syariatnya.

Umat Yang Mendokongnya

Negara Islam tidaklah muncul secara spontan. Kewujudannya adalah melalui proses naluri manusia. Ia wujud dengan adanya umat yang mendokong cita-cita Islam.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

"Dan di antara orang yang Kami ciptakan, ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan hak itu pula mereka menjalankan keadilan."

Negara Islam tidak ditegakkan secara percuma adalah merupakan suatu hikmat yang besar. Ia di mulakan dengan pembentukan golongan yang beriman kepada Islam. Melalui ilmu dan perjuangan maka akan terhasil keimanan yang sebenar yang memberi mereka kefahaman erti keadilan Islam. Mereka seringkali di uji dan dikenakan tindakan kezaliman yang dilakukan ke atas mereka. Proses ini menyebabkan mereka mereka menjadi bertambah teguh pendirian dan semakin berani untuk menegakkan hukum Allah SWT dengan penuh pengabdian tanpa merasa takut dan gentar terhadap makhluk. Proses ini juga akan menyebabkan mereka menjauhkan diri daripada bersikap zalim setelah mereka diberikan kuasa memerintah di atas muka bumi ini. Perkara ini tidaklah berlaku selagi tidak wujud apa yang dinyatakan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya yang bermaksud:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyerukepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar (kejahatan) dan beriman kepada Allah."

Apabila telah wujud umat yang mendokong Islam, akan terlaksanalah apa yang difirmankan oleh Allah SWT yang bermaksud:

"Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran kerana Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kerana adil itu lebih dekat kepada taqwa dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Umat atau golongan yang menjadi pendokong Negara Islam mempunyai ciri-ciri seperti berikut:

  1. Amar Makruf dan Nahi Mungkar. Ini bermula dari peringkat pendokong gerakan Islam itu sendiri. Amatlah tidak wajar jika mereka menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan dan mengaku menegakkan kebenaran sedangkan pendokong itu sendiri tidak mengamalkannya. Melarang orang lain daripada melakukan kemungkaran, sedangkan dia sendiri adalah ahli mungkar.
  2. Beriman kepada Allah. Yang dimaksudkan beriman kepada Allah ini ialah iman yang dibina di atas Tauhid dalam segala aspek seperti Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma' dan Sifat. Termasuk di dalam Tauhid ini juga ialah perkara-perkara yang berhubung dengan masalah kenegaraan.
  3. Umat yang menerima konsep Wahdah (kesatuan) manusia. Menyedari bahawa mereka adalah ciptaan Allah SWT sahaja dan tiada yang lain, maka mereka hendaklah menegakkan Hukum Allah SWT ke atas manusia seluruhnya tanpa mengira bangsa, warna kulit dan agama. Fahaman asobiyyah dianggap sebagai fahaman jahiliyyahdan tidak diiktiraf oleh Islam. Oleh itu, kerakyatan dalam negara Islam, pemberian hak, perlindungan kepada beragama, kebudayaan dan merasai keadilan adalah untuk seluruh umat di dalam negara Islam. Sama ada umat tersebut adalah umat ijabah (mereka yang menganut Islam) atau umat dakwah (semua manusia termasuk orang yang bukan Islam).
Tidak seperti apa yang berlaku di dalam negara yang tidak mengamalkan Islam. Sebagai contoh kita melihat di dalam sesebuah negara yang mengamalkan diktator, berlaku tindakan membunuh pembangkang. dan diskriminasi di dalam negara yang mengamalkan demokrasi. Oleh yang demikian, pembelaan hak di dalam pemerintahan Islam adalah wajib.

Pemerintahan Islam Yang Menaunginya

Menegakkan pemerintahan Islam adalah wajib menurut nas al-Quran, hadith Nabi SAW dan Ijma' Ulama'. Ia merupakan sebahagian daripada perkara-oerkara penting di dalam Hukum Islam. Di dalamnya tertakluk perlaksanaan Islam yang menyeluruh sehingga ulama'-ulama' besar yang muktabar memberi perhatian kursus di dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya ialah al-Mawardi, Imam al-Haramain, al-Juwini, al-Ghazali, at-Taftazani, Ibnu Khaldun dan lain-lain.

Tidak seharusnya orang-orang yang mengaku Islam memandang ringan tentang perkara ini, bukan sahaja di kalangan ahli sunnah tetapi juga di kalangan syiah. Pemerintahan Islam hendaklah ditegakkan di atas asas yang telah ditetapkan oleh Islam iaitu:

1. Tanggungjawab Pemerintah. Maksubnya tanggungjawab di hadapan Allah SWT dan di hadapan manusia. Pemerintah tidak mempunyai kuasa mutlak sama ada pemerintahan itu orang perseorangan atau kumpulan. Mereka hendaklah menjalankan pemerintahan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW, yang membawa unsur-unsur beriman, beribadat dan berakhlak di dalam politiknya. Mereka juga haruslah menolak pengaruh kebendaan dan kepentingan duniawi. Allah SWT menentukan kekuasaan pemerintah sebagai pelaksana dan wakil yang diberi tanggungjawab oleh Allah SWT. Mereka juga telah diberi kepercayaan oleh rakyat, maka tiada di dalam Islam teori raja tidak melakukan kesalahan. Pemerintah juga diamanahkan oleh rakyat untuk menyelesaikan masalah dalam urusan mereka.

Firman Allah SWt yang bermaksud:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak kepadanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat."

"Wahai orang-orang yang beriman! taatlah Allah dan taatlah Rasul-Nya dan Ulil Amri di kalangan kamu, kemudian jika kamu bertelingkah tentang sesuatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (al-Hadith) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhirat dan demikian lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya."

Di mana pemerintah hendaklah bertanggungjawab menegakkan Hukum Allah dengan seadil-adilnya dan menyelesaikanm, masalahumat dengan Hukum Allah. Bukan dengan hukum ciptaan manusia. Pemerintah wajiblah menunaikan amanat Allah dan rakyat. Menyampaikan amanat kepada yang berhak sebagaimana ia menyuruh kakitangan dan pegawai-pegawainya bersifat amanat.

2. Penyatuan Umat. Persaudaraan yang mengikat hati manusia dengan ajaran Islam adalah sebahagian daripada iman. Tidaklah sempurna iman seseorang Islam itu melainkan mengujudkan persaudaraan menurut persaudaraan Islam. Oleh itu maka berlakulah secara praktikal apa yang disebut sebagai kebebasan bersuara atau mengemukakan pandangan. Pandangan dan nasihat harus diberi tanpa mengira kedudukan atau pangkat. Pemerintah Islam harus menerima pandangan yang diberi, walaupun pandangan tersebut datang dari orang bawahannya. Ini berdasarkan kepada apa yang disabdakan oleh Nabi SAW yang bermaksud:

"Agama itu adalah nasihat."

Para sahabat bertanya:

"Bagi siapa? Ya Rasulullah."

Rasulullah SAW menjawab:

"Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam (pemimpin-pemimpin) kaum muslimin dan bagi rakyat mereka."

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Apabila engkau melihat umatku takut untuk untuk berkata kepada si zalim, wahai si zalim, maka sesungguhnya diterima ucapan selamat tinggal daripadanya."

Menurut satu riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

"Perut bumi lebih baik kepada mereka daripada belakangnya."

Penyatuan umat ini adalah merupakan perkara pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAw di Madinah. Rasulullah SAW telah menyatukan kaum Aus dan Khazraj dan di antara Muhajirin dan Ansar. Mereka telah bersatu menjadi satu umat yang teguh. Di samping itu Rasulullah SAW juga telah mementerai perjanjian kerakyatan dengan orang-orang bukan Islam. Di antara isi kandungan perjanjian tersebut ialah:

Bahawa orang-orang Yahudi yang menyertai kita hendaklah mendapat pertolongan dan pimpinan dengan tidak dizalimi dan tidak boleh ada pakatan tidak baik terhadap mereka.

Maka terjalinlah persaudaraan Islam dan hubungan kemanusiaan

3. Menghormati pandangan rakyat, Rakyat di dalam Negara Islam mempunyai hak penilaian terhadap pemerintah. Mereka berhak memberi pandangan yang baik sama ada secara individu atau melalui wakil mereka di dalam Majlis Syura' yang disebut juga dengan Ahlul Khali Wal Akdi. Majlis ini terdiri terdiri dari kalangan ulama' dan mereka yang mengetahui masalah semasa. Menjadi kewajipan kepada pemerintah pula melaksanakan Syura' (permesyuaratan) kerana firman Allah SWT yang bermaksud:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku berlemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar nescaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."

Perkara ini dipraktikkan di zaman Nabi SAW dan di zaman Khulafah ar-Rasyidin. Kita dapat melihat kejayaan yang dicapai oleh umat Islam yang pertama setelah dilahirkan di Semenanjung Tanah Arab yang jauh dari tamaddun. Mereka telah berjaya meledakkan suatu kebangkitan umat yang mempunyai kematangan di kalangan pemimpin dan rakyat.

Kita boleh melihat contoh bagaimana seorang pemimpin mendengar pandangan daripada rakyatnya melalui ucapan Saidina Abu Bakar As-Siddiq setelah dilantik menjadi Khalifah yang pertama.

"Wahai manusia! sesungguhnya aku telah dipilih menjadi ketua kamu dan bukanlah aku orang yang paling baik di kalangan kamu, jika aku baik maka tolonglah aku, jika aku tersilap maka perbetulkanlah aku."

Begitu juga dengan ucapan Saidina Omar bin al-Khattab, Khalifah yang kedua.

"Siapa yang melihat berlakunya kepadaku penyelewengan maka perbetulkanlah aku."

Ketua Negara mestilah sentiasa membuka dada untuk dibangkang dan ditegur kalau ia tersilap dan rakyat pula mestilah berani menegur.

Perhatikanlah ucapan Omar bin Abdul Aziz, seorang Khalifah yang memerintah selepas zaman Nabi dan zaman para sahabat sebagai bukti kewujudan pemerintahan Islam yang berjaya selepas generasi pertama. Di antaranya beliau berkata yang bermaksud:

"Adapun selepas itu, maka sesungguhnya tiada lagi Nabi selepas Nabi kamu Muhammad SAW dan tiada lagi kitab selepas Kitab (al-Quran) yang diturunkan kepadanya."

" Ingatlah, sesungguhnya apa yang dihalalkan oleh Allah Azzawajalla tetap halal hingga ke hari kiamat dan apa yang diharamkan oleh Allah tetap haram hingga ke hari kiamat."

" Ingatlah sesungguhnya tidak harus bagi seseorang itu taat dalam perkara derhakakan Allah Azzawajalla."

"Ingatlah, sesungguhnya aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu, tetapi Allah telah menjadikan aku orang yang paling berat memikul tugas."

Menurut Islam, anggota di dalam kerajaan, pegawainya, bahkan rakyatnya diizinkan, bahkan wajib untuk menasihat dan membangkang dalam perkara penyelewengan. Adalah berdosa jika sekiranya seseorang itu melihat kemungkaran tetapi tidak ditegahnya. Dan menjadi kewajipan juga kepada pemerintah menerima nasihat dan teguran yang baik dan membina. Adalah haram jika mereka menolak kebenaran dan lebih berdosa lagi jika mereka bertindak ke atas orang yang menegurnya.

Sifat-Sifat Pemerintahan Islam

Pemerintah menurut Islam bukanlah hanya sekadar memegang teraju pemerintahan dan melaksanakan menurut kemahuan sendiri, melakukan sesuatu dan memerintah dengan sewenang-wenang sahaja tetapi memikul kewajipan yang besar dan tanggungjawab yang berat. Untuk mengetahui sifat dan tanda-tanda sesuatu pemerintahan Islam ialah berpandukan kepada apa yang difirmankan oleh Allah SWT yang bermaksud:

"Orang-orang yang apabila telah Kami berikan kedudukan yang kukuh di atas muka bumi, mereka mendirikan sembahyang, memberi zakat, dan mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dan kepada Allah jua akibat segala urusan."

Ayat ini menyatakan perkara-perkara yang mesti dilakukan oleh pemerintahan Islam.

  1. Mendirikan sembahyang. Iaitu melakukan hubungan yang kuat di antara masyarakat Islam dengan Allah SWT.
  2. Memberi zakat. dengannya diberi perhatian kepada masalah ekonomi dan pembahagiannya yang adil.
  3. Menyeru kepada yang makruf. menyebarkan kebaikan dan melakukan islah dalam masyarakat.
  4. Mencegah kemungkaran. memerangi segala bentuk kejahatan. penyelewengan, kezaliman dan maksiat.

Pemerintah yang begitu rupa memerlukan orang yang benar-benar layak, adil dan soleh, mempunyai persediaan ilmu, amal dan peribadi yang mulia.

Kalau begitulah sifatnya pemerintahan Islam dan pendokongnya, maka tiada alasan yang munasabah kepada mereka yang takut kepada wujudnya Negara Islam tulin melainkan orang-orang yang zalim dan fasik.

Matlamat Negara Islam

Menurut Islam, menjadi pemerintah ialah untuk mencapai matlamat, bukannya menjadi matlamat. Mewujudkan Negara Islam itu ialah memungkinkan kita melaksanakan perintah Allah dan ini tidak boleh dilakukan secara individu. Menegakkan negara Islam ini terkandung di dalam matlamat melaksanakan perintah Allah SWT yang di gariskan kepada tiga perkara,

1. Matlamat Khulafah. Iaitu tugas yang maha besar yang diisytiharkan oleh Allah kepada para malaikat. Firman Allah SWT yang bermaksud:

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat. Sesungguhnya Aku akan jadikan di muka bumi itu khalifah."

Para ulama mentakrifkan Khulafah itu sebagai “Mengalang-ganti keNabian di dalam perkara memelihara agama dan mentadbir dunia dengannya (iaitu dengan agama).

Dari takrif tersebut, kita dapati dua unsur terpenting di dalam tujuan kejadian manusia.

· Menjaga agama

· Mentadbir dunia

Menjaga agama dilakukan dengan melaksanakan dua perkara pokok.

a) Menegakkan Islam dengan menyatakan kepada manusia seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat RA dengan menyatakan apakah Islam yang sebenar kepada seluruh manusia dan membuktikan kebaikan ajaran dan hukum-hukumnya di samping mempertahankan dari musuh.

b) Melaksanakan Islam dengan mengamalkan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya dalam semua urusan. Termasuk juga di dalamnya urusan bermasyarakat dan bernegara. Menyeru dan mengajak manusia kepada melaksanakan perintah agama dan bertindak ke atas sesiapa yang tidak melakukannya, di samping mencegah kemungkaran dan kejahatan dengan kuasa pemerintah.

Mentadbir dunia dengan agama ialah menghayati bahawa urusan dunia itu termasuk juga di dalam urusan agama. Ia mestilah patuh kepada perintah agama. Apa yang dimaksudkan ialah segala urusan negara yang membawa kepada kebaikan dan menolak keburukan tidak akan sempurna dan tidak dapat disempurnakan melainkan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT terutamanya perkara-perkara yang berhubung dengannya.

1. Menegakkan keadilan di kalangan manusia

Ciri-ciri utama mentadbir dunia dengan agama ialah beriltizam sepenuhnya dengan keadilan kerana ia menjadi tunggak yang menguatkan negara. Sebenarnya kezaliman itu tidaklah menandakan kekuatan negara tetapi menandakan keruntuhannya.

Di dalam Islam makna adil ialah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya menurut hukum Islam. Dengan keadilan itu terjamin pemberian hak kepada yang berhak dan tidak berlaku zalim kepada yang berhak. Pemerintah hendaklah bertindak menentang kezaliman daripada diri sendiri. Al-Alamah Ibnu Khaldun menjelaskan makna zalim di dalam kitabnya Al-Muqqadimah:

Janganlah kamu menyangka zalim itu mengambil harta atau merampas milik tanpa alasan dan gantian yang wajar seperti diketahui umum, tetapi zalim itu bermakna lebih luas dari itu. Zalim itu ialah setiap orang yang mengambil milik orang lain atau merampas di dalam kerjanya, atau membuat permintaan yang tidak sebenar, atau mewajibkan kepada seseorang dalam perkara yang tidak diwajibkan oleh hukum syarak. Oleh itu mengambil cukai dengan cara yang tidak benar adalah zalim, bertindak mencari kesempatan daripadanya adalah zalim, menghalang hak orang lain adalah zalim. Kesemua akibat penyakit zalim yang berlaku menjadi bebanan negara ke arah membawa keruntuhan.

Bagi menegakkan keadilan, pemerintah wajib memberi tugas urusan negara kepada orang yang berkelayakan dan mempunyai sifat yang baik. Bukannya berdasarkan kepada orang yang berada di sekeliling pinggang tanpa membezakan di antara pengampu dan penasihat.

Pemerintah juga hendaklah mengawasi jentera kerajaan dan petugas-petugasnya agar mengikuti jalan yang sebenar dan tidak cuai dalam mengendalikan urusan negara untuk umatnya. Di dalam kitab Fiqah Siasi di sebut al-Hasabah atau Nizamul Hasabah perlu di wujudkan. A Hasabah ialah satu badan yang diberi kuasa penuh bagi menjalankan tugas munasabah terhadap perjalanan pentadbiran dan hal ehwal rakyat di samping menerima pengaduan rakyat.

2. Membentuk pandangan yang mulia dan kebebasan pendapat yang bermaruah.

Dengan menggalakkan amar makruf dan nahi mungkar dan nasihat menasihati maka terbentuklah satu umat yang dinyatakan di dalam al-Quran yang bermaksud:

“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dijadikan untuk manusia, kamu menyeru kepada kebaikan dan menegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.”

Dan Allah SWT melaknat umat yang tidak wujud sifat-sifat tersebut. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dilaknati akan orang-orang Kafir di kalangan Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa bin Maryam, yang demikian itu disebabkan mereka derhaka dan selalu melampaui batas, mereka selalu tidak melarang antara satu sama lain dalam perkara mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruk apa yang selalu mereka perbuat itu.”

Di antara sifat yang berlaku sekarang ialah tidak memberi kebebasan kepada akhbar untuk mengkritik walaupun yang membina menurut Islam, di samping itu memebebaskan ruang yang menggalakkan kemungkaran, dan di antaranya ialah menutup penyelewengan dan kezaliman yang berlaku.

3. Menghormati taraf kemanusiaan.

Di antara peranan yang dilakukan oleh Negara Islam itu ialah menghormati dan mempertahan taraf kemanusiaan sebagai makhluk yang mulia di sisi Allah SWT. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami menanggung mereka di daratan dan dilautan. Kami berikan mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

4. Menegakkan keamanan dan kestabilan

Negara Islam berkewajipan menjamin keamanan dan kestabilan negara demi memelihar kepentingan agama, nyawa, akal, kehormatan dan perkembangan harta benda. Ini semua dapat dijalankan dengan cara yang sempurna apabila undang-undang negara dan sistem dalam segala aspek dilaksanakan secara menyeluruh menurut undang-undang dan sistem Islam.

5. Menyediakan keperluan rakyat

Di antara perkara yang termasuk di dalam urusan pentadbiran dunia dengan agama ialah menyediakan kemudahan-kemudahan rakyat di dalam semua kehidupan mereka. Dari segi ilmu, pemerintah mestilah menyediakan pusat-pusat pengajian di semua peringkat dan jurusan. Dari segi ekonomi, pemerintah hendaklah memberi kemudahan pekerjaan seperti di dalam sektor industri, pertanian, perdagangan dan lain-lain. Ini termasuk dalam perkara-perkara yang menyentuh kepentingan umum ataupun memberi kemudahan dan perlindungan dalam perkara yang dilibatkan oleh rakyat secara langsung.

6. Menggalakkan perkembangan kemajuan negeri dan rakyat

Di dalam urusan dunia yang ditadbir dengan agama, pemerintah juga haruslah menggalakkan perkembangan kemajuan negara dan rakyat seperti menggalakkan pelaburan yang berfaedah sama ada dari dalam atau dari luar negeri. Di samping itu kerajaan juga haruslah menyediakan kemudahan-kemudahan asas bagi membantu kemajuan negeri dan rakyat.

Al-Imam Abu Yusof telah menyebut di dalam kitab al-Kharaj:

Untuk menggalakkan pertambahan hasil negara dan kesenangan rakyat agar bertambah hasil pertanian yang dengannya maka akan bertambahlah zakat yang diambil dari orang Islam dan kharaj dari orang bukan Islam, pemerintah hendaklah menyediakan kemudahan taliair untuk para pertani dengan perbelanjaan pemerintah.

Apa yang disebutkan di atas itu ialah suatu contoh di zaman beliau.

2. Di antara matlamat Negara Islam itu ialah menunaikan amanah.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit bumi, bukit bukau dan gunung ganang, semuanya enggan memikul amanah itu dan khuatir mengkhianatinya, lalu dipikul amanah itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat jahil.

Menurut pendapat Mufassirun, amanat itu memberi makna yang luas di antaranya ialah menegakkan undang-undang Allah dan mentadbir urusan manusia. Ibnu Kathir menyebut di dalam tafsirnya, zalim dan jahil itu dikecualikan orang yang diberi taufiq dan memohon pertolongan Allah. Para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya tidak termasuk di dalam kalangan yang zalim. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati amanah Allah dan Rasul SAW dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kamu sedang kamu mengetahuinya.”

Ayat ini bermaksud semua amanah, termasuk menegakkan hukum Allah SWT di dalam Negara Islam. Terdapat banyak lagi ayat-ayat al-Quran yang memberi makna tersebut. Al-Imam Muslim meriwayatkan di dalam syahihnya yang bermaksud:

“Dari Abi Zarr RA, katanya: ‘saya telah berkata kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, mengapa tidak melantik saya (memegang jawatan pemimpin), lalu ia menepuk bahu saya dengan tangannya kemudian ia bersabda, wahai Abu Zarr, awak seorang yang lemah, ia adalah amanah dan di akhirat nanti ia membawa kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan sebenar dan menunaikan kewajipan yang diamanahkan kepadanya.”

Di dalam syahih Bukhari di sebut satu hadith berhubung dengan amanah yang bermaksud:

“Dari Abi Hurairah RA, katanya, sedang Rasulullah SAW berada dalam satu majlis, ia berucap kepada orang-orang yang hadir, tiba-tiba datang seorang A’rabi (Badwi), ia terus bertanyakan Rasulullah SAW:

“Bilakah kiamat?”

Rasulullah SAW meneruskan ucapannya. Ada orang yang berpendapat, ia mendengar pertanyaan itu dan ia tidak suka dengan cara pertanyaan seperti itu. Ada yang berpendapat ia tidak mendengarinya. Apabila Rasulullah SAW selesai berucap, tiba-tiba ia bersabda.

“Tadi saya mendengar ada orang yang bertanyakan tentang kiamat.”

Lalu orang Badwi tersebut menjawab.

“Ya, saya ya Rasulullah.”

Rasulullah SAW pun bersabda.

“Apabila dipersia-siakan amanah maka tunggulah kiamat.”

Orang Badwi itu bertanya lagi.

“Bagaimanakah mempersia-siakan amanah itu, ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW menjawab.

“Apabila disandarkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya.”

Para ulama’ yang mengulaskan hadith ini mewajibkan pemerintah menyempurnakan matlamat amanah dengan melantik orang yang berkelayakan dan mempunyai sifat keIslaman.

Melaksanakan kerja pemerintahan secara Islam adalah amanah yang dipertanggungjawabkan kepada negara, sama ada ia dipilih dengan keredhaan rakyat ataupun tidak. Kewajipan menunaikan amanah tetap dibebankan ke atas bahunya. Oleh itu maka wajiblah ia menunaikan amanah Allah SWT dan meletakkan amanah itu kepada rakyat menurut tempatnya yang betul menurut hukum Islam. Dengan itu ternyatalah sama ada ia berlaku adil atau tidak.

Kita perlu memahami bahawa bukanlah menegakkan Negara Islam itu menjadi kemuncak matlamat walaupun ia menjadi satu kewajipan yang tidak harus dipertikaikan lagi. Yang menjadi kemuncaknya ialah menegakkan masyarakat yang sempurna, yang terselamat dari penyakit kezaliman dan melampaui batas Allah SWT. Oleh itu menjadi kenyataan sejarah Islam, apabila ada golongan yang menerima dasar tersebut, maka wajiblah umat Islam memberikan kesetiaan kepadanya dan tetap mengekalkan pimpinan yang ada tanpa mengira di mana dan bila. Maka kita hendaklah tetap menentang kezaliman walaupun berlaku di Makkah dan oleh seseorang yang sebangsa dengan Rasulullah SAW.

3. Ibadah Allah (Pengabdian kepada Allah)

Menurut ajaran Islam, semua manusia adalah hamba Allah SWT, sama ada rakyat biasa ataupun pemimpin. Mereka tertakluk di bawah tujuan asal mereka diciptakan seperti yang dinyatakan oleh firman Allah SWT:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Aku, Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki mereka memberi Aku makan, sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh, maka sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim dibahagikan siksa seperti bahagian teman-teman mereka dahulu, maka janganlah mereka meminta Aku menyegerakannya.”

Setiap orang Islam yang menjadi pemerintah mestilah beriman dengan segala ajaran Islam. Di antaranya ialah berhubung dengan pemerintahan. Mereka diwajibkan tunduk kepada apa yang ditetapkan oleh Allah SWT di atas sifat mereka sebagai hamba Allah. Sebarang langkah tidak percaya atau meminda hukum, mencipta hukum sendiri adalah pelampau batasan Allah SWT dan berlagak menyanggah Tuhan dan membatalkan Iman. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan perempuan yang mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.”

Melaksanakan Hukum Allah SWT bukan hanya menghilangkan atau menyelesaikan masalah di dunia ini sahaja malahan mereka akan dibuat perhitungan di Akhirat. Oleh itu mereka bukan sahaja diwajibkan meletakkan urusan pemerintahan itu mengikut Hukum Allah di dunia sahaja tetapi mereka akan ditimbang pada hari kiamat.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dan bagi Allah juga akibah segala urusan.”

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Imam (Ketua Negara) adalah pemimpin, dia akan ditanya tentang urusan rakyatnya.”

Al-Imam Malik bin Annas RA telah mengutuskan surat nasihat kepada Khalifah Harun al-Rashid. Di antaranya beliau menulis.

Sesungguhnya tidak terselamat sedikitpun dari urusanmu kalau diserahkan kepada orang yang tidak takutkan Allah.

Al-Imam Abu Yusof RA menulis kepada Khalifah yang sama.

Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah, bagi-Nya segala kepujian, telah mengangkat kamu melaksanakan urusan yang amat besar, pahalanya amat besar dan balasan siksanyapun amat besar……

Apa yang tersebut menunjukkan bahawa masalah Negara Islam termasuk di dalam perkara matlamat ibadah yang menjadi sebahagian daripada hikmah kejadian manusia. Oleh itu ia mempunyai hubungan dengan perkara dosa dan pahala, sah dan batal, benar atau sesat.

Demikianlah secara ringkas, tentang Konsep Negara Islam dan Matlamatnya, semoga menjadi renungan bersama ke arah menegakkan keadilan Illahi dan bertindak menentang kezaliman, untuk kebahagian manusia seluruhnya di dunia dan di akhirat.

Wallahu aklam.